PALEMBANG — Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan bersama Wali Kota Palembang Ratu Dewa meninjau proyek PSEL di Palembang, Sumatera Selatan, Rabu. Zulhas menyebut proyek senilai hampir Rp3 triliun itu sudah masuk tahap uji coba operasional (commissioning).
Meski masih dalam tahap percobaan, listrik yang dihasilkan dari pengolahan sampah sudah tersambung ke jaringan PLN. Capaiannya melampaui target awal 17,7 megawatt (MW), dengan realisasi saat ini 18,6 MW.
Zulhas menyebut hasil uji coba sudah melebihi perkiraan awal. Saat beban puncak, produksi listrik diproyeksikan menembus 20 MW.
"Ini sudah commissioning, sudah percobaan jalan. Perlu sedikit lagi penyempurnaan. Insya Allah Desember 2026 sudah 100 persen dan bisa kita resmikan," ujar Zulhas.
Menurut Zulhas, proyek ini membawa tiga keuntungan langsung bagi warga Palembang. Pertama, lingkungan lebih bersih karena 1.100 ton sampah per hari yang diangkut Pemkot Palembang tidak lagi menumpuk dan memicu risiko kebakaran, polusi gas metan, serta mikroplastik.
Kedua, listrik yang dihasilkan mampu menyuplai kebutuhan 14.000 hingga 15.000 rumah tangga di Palembang. Ketiga, proyek ini menyerap 500 hingga 1.000 tenaga kerja lokal.
"Bayangkan, yang tadinya masalah yang menimbulkan dampak lingkungan luar biasa, sekarang menjadi listrik. Semua menjadi positif melalui teknologi," kata Zulhas.
Wali Kota Palembang Ratu Dewa menyebut progres PSEL kini sudah 98,5 persen. Peresmian ditargetkan dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto pada 8 Desember 2026.
Untuk menjaga pasokan sampah, Pemkot Palembang memastikan pengangkutan berjalan lancar dengan rata-rata 1.100 ton per hari. Namun, Ratu Dewa mengakui masih butuh tambahan armada.
"Namun, masih butuh tambahan 171 armada lagi. Saat ini Pemprov Sumsel sudah membantu dan Pemkot meminta tambahan 50 armada lagi ke pemerintah pusat," ujarnya.
Dengan beroperasinya PSEL, Palembang menjadi salah satu kota pertama di Indonesia yang berhasil mengubah masalah sampah menjadi solusi energi untuk warga.