SUMATERA SELATAN — Penguatan ini menandai minggu ketiga beruntun kenaikan harga emas, setelah sempat menyentuh level intraday USD4.632,14 per troy ons—posisi tertinggi sejak 15 Mei 2026. Lonjakan terbesar terjadi pada Rabu (19/8/2026), mencatatkan lompatan harian tertinggi sejak awal Februari tahun ini.
Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, menilai pergerakan saat ini lebih banyak digerakkan oleh faktor teknikal. Setelah menembus rata-rata pergerakan 200 hari (MA-200) di kisaran USD4.513 per troy ons, posisi tersebut lazim dianggap sebagai sinyal bullish oleh para analis.
"Faktor besarnya tentu saja teknikal. Langkah berikutnya adalah USD4.700 jika momentum ini berlanjut, tetapi saya juga melihat penguatan ini sangat didorong oleh pelemahan dolar AS," ujar Melek kepada Reuters.
Dengan tertutupnya posisi di atas MA-200, pasar kini mencermati level resistensi berikutnya di angka psikologis USD4.700. Selama indeks dolar AS masih berada di bawah tekanan, peluang penguatan lanjutan dinilai tetap terbuka.
Sebaliknya, support terdekat berada di area USD4.513. Jika harga kembali turun menembus level tersebut, momentum bullish dalam jangka pendek berpotensi meredup dan menguji area support yang lebih rendah.
Kenaikan ini menjadi angin segar bagi investor yang memegang posisi emas sebagai aset lindung nilai. Namun, volatilitas jelang data ekonomi AS pekan depan bisa memicu aksi ambil untung.
Investasi mengandung risiko. Pergerakan harga emas ke depan tetap bergantung pada arah kebijakan suku bunga The Fed dan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis dalam beberapa pekan mendatang.