Harga Emas Antam Hari Ini Stabil di Rp 2,7 Juta per Gram, Buyback Masih di Level Ini

Penulis: Amril Fauzan  •  Jumat, 21 Agustus 2026 | 11:09:01 WIB
Harga emas batangan Antam hari ini tercatat stabil di level Rp 2,7 juta per gram.

SUMATERA SELATAN — Kebijakan harga yang stabil ini memberikan jeda bagi investor setelah volatilitas tinggi sepanjang pekan ini. Sebelumnya, harga emas Antam sempat mencatat rekor tertinggi sepanjang sejarah (all-time high) pada Kamis (29/1/2026) lalu di level Rp 3.168.000 per gram, dengan harga buyback mencapai Rp 2.989.000 per gram. Artinya, harga saat ini masih sekitar 13,9 persen di bawah puncak historis tersebut.

Fluktuasi harga emas Antam sendiri sangat dipengaruhi oleh pergerakan harga emas dunia dan nilai tukar rupiah. Untuk transaksi hari ini, Antam membanderol emas batangan 0,5 gram di harga Rp 1.412.500, sementara untuk ukuran 2 gram dijual Rp 5.400.000. Adapun untuk pecahan besar seperti 100 gram, konsumen harus menyiapkan dana Rp 266.860.000.

Buyback dan Selisih Harga Jual

Selisih antara harga jual dan harga buyback yang mencapai Rp 140.000 per gram merupakan margin yang harus diperhitungkan investor saat ingin berinvestasi. Selisih ini merupakan biaya yang timbul dari proses pembuatan, pengujian, dan margin keuntungan Antam. Bagi investor jangka pendek, selisih ini akan mengurangi potensi keuntungan, namun bagi investor jangka panjang, fluktuasi harga emas biasanya mampu menutupi selisih tersebut.

Untuk pembelian dalam jumlah besar, Antam menerapkan sistem pre-order. Emas batangan 250 gram dijual dengan harga Rp 666.840.000, sedangkan untuk ukuran 500 gram dan 1.000 gram masing-masing dibanderol Rp 1.333.400.000 dan Rp 2.665.600.000. Seluruh harga ini mengacu pada situs resmi Logam Mulia, unit bisnis Antam.

Pasar Global: Aksi Ambil Untung dan Sinyal The Fed

Di pasar global, harga emas spot terkoreksi tipis 0,1 persen ke level US$ 4.516,19 per ons pada perdagangan Kamis (20/8/2026) waktu AS. Penurunan ini terjadi setelah harga sempat menyentuh level tertinggi sejak 2 Juni di sesi sebelumnya, lalu merosot ke titik terendah US$ 4.450,08 sebelum akhirnya memangkas sebagian kerugian.

"Emas mengalami tekanan aksi ambil untung yang wajar setelah kenaikan tajam pada sesi sebelumnya," ujar Analis American Gold Exchange, Jim Wyckoff. Ia menambahkan, risalah rapat Federal Reserve (the Fed) yang bernada hawkish (cenderung mengetatkan kebijakan) serta kenaikan harga minyak telah memicu kembali kekhawatiran inflasi dan menekan logam mulia.

Namun, pelemahan emas tertahan setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pemerintah kemungkinan akan meningkatkan pembelian kembali obligasi negara (treasury), dengan nilai yang bisa melebihi US$ 4 miliar atau sekitar Rp 71,05 triliun (kurs Rp 17.760 per dolar AS) per penerbitan. Langkah ini menurunkan imbal hasil obligasi riil jangka panjang, yang justru menguntungkan emas sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil.

Proyeksi Harga dan Sentimen Pasar ke Depan

Para pelaku pasar saat ini memperhitungkan peluang sebesar 67,4 persen The Fed akan mempertahankan suku bunga pada September, berdasarkan data CME FedWatch Tool. Suku bunga tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi emas karena meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) memegang aset yang tidak memberikan bunga.

Di sisi lain, analis Morgan Stanley melihat adanya peluang harga emas melampaui US$ 5.000 per ons pada 2027 atau bahkan lebih cepat, meski disertai potensi volatilitas tinggi. Kenaikan harga minyak yang terus berlanjut akibat konflik Iran dan meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah menjadi katalis yang mendukung proyeksi tersebut, sekaligus menjadi pengingat bahwa emas tetap menjadi aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Reporter: Amril Fauzan
Sumber: liputan6.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top