ULN Indonesia Tembus US$453,4 Miliar di Kuartal II-2026, Pemerintah dan BI Jadi Motor Pendorong

Penulis: Syahril Hamid  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 10:37:31 WIB
Bank Indonesia mencatat posisi Utang Luar Negeri Indonesia mencapai US$453,4 miliar pada kuartal II-2026, tumbuh 4,4 persen secara tahunan.

SUMATERA SELATAN — Bank Indonesia mencatat posisi Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia mencapai US$453,4 miliar pada kuartal II-2026. Angka ini merepresentasikan pertumbuhan 4,4 persen secara tahunan (year on year/yoy), didorong oleh peningkatan ULN publik yang mencakup pemerintah dan bank sentral.

Menariknya, pertumbuhan ini terjadi di saat ULN swasta justru mengalami kontraksi atau pertumbuhan yang lebih rendah. Hal ini menunjukkan bahwa aliran modal asing saat ini lebih banyak terserap melalui instrumen pemerintah dan otoritas moneter ketimbang sektor korporasi swasta.

Pemerintah Catat Pertumbuhan Lebih Lambat, Investor Masih Percaya pada SBN

Posisi utang pemerintah tercatat sebesar US$216,3 miliar pada kuartal II-2026, atau tumbuh 2,9 persen (yoy). Realisasi ini lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal sebelumnya yang mencapai 3,8 persen (yoy).

Meski melambat, aliran dana masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) tetap terjadi. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa hal ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia yang terjaga.

"Pemerintah tetap berkomitmen untuk menjaga kredibilitas dengan memenuhi kewajiban pembayaran pokok dan bunga utang secara tepat waktu, serta mengelola ULN secara pruden, terukur, dan fleksibel," ujar Ramdan dalam keterangan resminya, Selasa (18/8).

Utang Pemerintah Paling Banyak untuk Sektor Kesehatan dan Pertahanan

Pemanfaatan utang pemerintah terus diarahkan ke sektor-sektor produktif. Berdasarkan data BI, alokasi terbesar ULN pemerintah pada kuartal II-2026 adalah sebagai berikut:

  • Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial: 22,0 persen dari total ULN pemerintah
  • Administrasi Pemerintah, Pertahanan, dan Jaminan Sosial Wajib: 20,6 persen
  • Jasa Pendidikan: 16,2 persen
  • Konstruksi: 11,5 persen
  • Transportasi dan Pergudangan: 8,5 persen

Ramdan menambahkan bahwa posisi ULN pemerintah relatif aman karena hampir seluruhnya merupakan utang berjangka panjang. Struktur ini membuat risiko refinancing dan tekanan jangka pendek terhadap APBN menjadi lebih terkelola.

Peran SRBI dalam Meningkatkan ULN Bank Sentral

Di sisi lain, peningkatan ULN bank sentral tidak lepas dari kenaikan kepemilikan asing pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Instrumen ini menjadi andalan BI dalam operasi moneter pro-market untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Secara keseluruhan, rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat aman di angka 30,6 persen pada kuartal II-2026. Dari total tersebut, 82,1 persen merupakan utang berjangka panjang, menegaskan bahwa struktur ULN Indonesia tetap sehat dan dikelola dengan prinsip kehati-hatian.

Reporter: Syahril Hamid
Sumber: viva.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top