Sumatera Selatan menyimpan kekayaan kuliner dan kerajinan tangan autentik yang melampaui popularitas pempek sebagai buah tangan utama bagi para pelancong. Temukan daftar oleh-oleh pilihan yang memiliki daya simpan lama serta nilai filosofis tinggi untuk dibawa pulang ke kampung halaman.
Sumatera Selatan bukan sekadar tentang Jembatan Ampera atau Sungai Musi yang membelah kota. Wilayah yang dahulu menjadi pusat Kerajaan Sriwijaya ini mewariskan ragam tradisi yang tercermin kuat dalam produk-produk lokalnya. Wisatawan sering kali terpaku pada pempek, padahal provinsi ini memiliki deretan buah tangan lain yang tak kalah istimewa dan mampu bertahan lama dalam perjalanan jauh.
Memilih oleh-oleh yang tepat memerlukan pertimbangan jarak tempuh dan kemasan. Beruntung, banyak perajin dan pengusaha kuliner di Bumi Sriwijaya kini telah mengadaptasi teknologi pengemasan modern tanpa menghilangkan cita rasa tradisional. Mulai dari camilan berbahan ikan hingga kain tenun dengan detail rumit, setiap item membawa cerita tentang ketekunan masyarakat lokal dalam menjaga warisan leluhur.
Kemplang merupakan pilihan pertama yang wajib masuk dalam daftar belanjaan. Berbeda dengan kerupuk biasa, kemplang khas Sumatera Selatan dibuat dari campuran daging ikan tenggiri dan tepung tapioka yang kemudian dipanggang atau digoreng. Teksturnya yang renyah dan aroma ikan yang kuat memberikan sensasi gurih yang sulit dilupakan, terutama jika dinikmati dengan sambal terasi cair yang biasanya disertakan dalam kemasan.
Selanjutnya, jangan lewatkan Sambal Lingkung. Meski namanya mengandung kata "sambal", produk ini sebenarnya lebih mirip abon ikan dengan tekstur halus dan kering. Sambal Lingkung terbuat dari daging ikan yang diolah dengan santan dan rempah-rempah hingga benar-benar kering. Karena kadar airnya yang sangat rendah, kudapan ini bisa bertahan hingga berbulan-bulan tanpa pengawet buatan, menjadikannya teman makan nasi hangat yang sangat praktis.
Beralih ke sisi manis, Sumatera Selatan memiliki deretan kue basah yang dahulu hanya disajikan untuk kaum bangsawan. Lapis Kojo adalah salah satu primadonanya. Kue berwarna hijau pekat ini mendapatkan warna alaminya dari perasan daun pandan dan daun suji. Teksturnya sangat lembut dan kenyal, dengan aroma wangi yang menyerbak saat kemasan dibuka.
Pilihan lainnya adalah Kue Maksuba. Pembuatan kue ini membutuhkan kesabaran luar biasa karena dipanggang lapis demi lapis. Bahan utamanya didominasi oleh telur bebek dan susu kental manis, menghasilkan rasa legit yang intens. Bagi Anda yang mencari variasi tekstur, Engkak Ketan bisa menjadi alternatif karena menggunakan tepung ketan sehingga menghasilkan sensasi lebih liat dan mengenyangkan dibandingkan Maksuba.
Kue-kue basah ini biasanya memiliki daya tahan sekitar 3-4 hari di suhu ruang. Namun, jika disimpan dalam lemari pendingin, kesegarannya bisa terjaga hingga dua minggu. Pastikan untuk membelinya di toko yang menyediakan layanan pengemasan vakum agar kue tidak mudah hancur atau berjamur selama di bagasi pesawat atau kendaraan pribadi.
Jika Anda mencari oleh-oleh non-makanan yang bersifat abadi, kain Songket Palembang adalah jawabannya. Dikenal sebagai "Ratu Segala Kain", songket ditenun menggunakan benang emas atau perak dengan motif yang sangat detail. Setiap motif, seperti Lepus atau Kristal, memiliki makna filosofis tersendiri yang melambangkan kejayaan dan kemakmuran.
Selain songket, kain Jumputan juga menjadi tren yang sangat digemari wisatawan saat ini. Kain ini dibuat dengan teknik ikat celup yang menghasilkan pola bintik-bintik atau bunga yang cantik. Bahannya yang biasanya terbuat dari sutra atau katun membuat kain Jumputan sangat nyaman digunakan sebagai bahan pakaian formal maupun santai di iklim tropis Indonesia.
Lempok Durian menjadi incaran bagi para pencinta buah durian. Berbeda dengan dodol yang banyak menggunakan campuran tepung, lempok durian asli Sumatera Selatan didominasi oleh daging buah durian dan gula. Proses pengadukan di atas api kecil selama berjam-jam menghasilkan tekstur yang legit dan rasa durian yang sangat konsentrat. Ini adalah cara terbaik membawa pulang "aroma durian" tanpa harus melanggar aturan maskapai penerbangan.
Jangan lupakan Tempoyak bagi mereka yang berani mencoba rasa unik. Tempoyak adalah hasil fermentasi daging buah durian yang biasanya dijadikan bahan dasar sambal atau bumbu masakan ikan patin. Rasanya merupakan perpaduan antara asam, manis, dan gurih dengan aroma yang sangat tajam. Tempoyak yang dikemas dengan baik dalam botol kaca atau plastik tebal mampu bertahan lama dan menjadi bumbu rahasia dapur yang autentik.
Bisa, asalkan Anda memilih pempek yang sudah dikemas vakum dan dalam kondisi beku (frozen). Pengemasan vakum mencegah udara masuk sehingga pempek tidak cepat basi dan bisa bertahan hingga 2-3 hari di luar pendingin.
Kawasan pengrajin di Tangga Buntung, Palembang, dikenal sebagai sentra produksi songket tradisional. Di sana, pembeli bisa melihat langsung proses penenunan dan mendapatkan harga yang lebih bersaing dibandingkan toko besar di pusat kota.
Maksuba berbahan dasar telur bebek dan susu dengan rasa manis yang sangat kuat, sedangkan Lapis Kojo menggunakan campuran santan dan sari daun pandan yang memberikan warna hijau serta aroma khas. Maksuba cenderung lebih padat, sementara Lapis Kojo lebih lembut.
Menjelajahi Sumatera Selatan memberikan pengalaman sensorik yang lengkap, mulai dari pemandangan alam hingga kelezatan kulinernya. Membawa pulang oleh-oleh khas ini bukan sekadar memberi buah tangan, tetapi juga membagikan potongan sejarah dan budaya Bumi Sriwijaya kepada orang-orang terdekat. Pastikan Anda memeriksa tanggal kedaluwarsa dan kualitas kemasan sebelum membeli agar oleh-oleh tetap terjaga kualitasnya hingga sampai di tujuan.