PALEMBANG — Koordinator Lapangan Koalisi Pers Sumsel, Ardhy Fitriansyah, menyatakan aksi solidaritas ini merupakan respons atas kekerasan yang menimpa jurnalis saat menjalankan tugas peliputan. Ardhy yang juga menjabat Ketua Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Sumsel menegaskan bahwa insiden tersebut tidak bisa dipandang sebagai risiko biasa dalam pekerjaan jurnalistik.
Menurut koalisi, peristiwa di depan Mapolda Sumsel menyangkut kemerdekaan pers dan hak publik untuk mendapatkan informasi. Dua jurnalis dilaporkan menjadi korban penganiayaan dalam insiden yang terjadi saat aksi unjuk rasa terkait kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dua Jurnalis Jadi Korban, Mahasiswa Juga Mengalami Kekerasan
Rahmat Kurniawan dari Tribun Sumsel dan Mulyadi dari PalTV menjadi korban penganiayaan dalam bentrokan di depan Mapolda Sumsel. Sejumlah mahasiswa yang mengikuti aksi karhutla juga dilaporkan mengalami kekerasan serupa.
Koalisi menyoroti rekaman video yang memperlihatkan pergerakan sekelompok massa berpakaian hitam beriringan dengan aparat kepolisian. Massa tersebut bergerak dari arah gerbang Mapolda Sumsel menuju simpang empat lampu lalu lintas, sesaat sebelum bentrokan pecah.
Rekaman Video Jadi Kunci Penelusuran Aktor Intelektual
Rekaman pergerakan massa dinilai perlu ditelusuri secara menyeluruh untuk menjelaskan konteks kehadiran kelompok berpakaian hitam tersebut. Koalisi mempertanyakan tujuan kehadiran mereka serta langkah antisipasi yang dilakukan aparat sebelum bentrokan terjadi.
Penyelidikan, menurut koalisi, tidak boleh berhenti pada orang-orang yang diduga melakukan kekerasan di lapangan. Koalisi mendesak agar aktor intelektual di balik insiden tersebut turut diungkap dan dimintai pertanggungjawaban.
Tuntutan: Pengusutan Tuntas dan Evaluasi Pengamanan Aksi
Koalisi Pers Sumsel menuntut pengusutan tuntas kasus kekerasan terhadap jurnalis, perlindungan kerja jurnalistik, serta evaluasi menyeluruh terhadap prosedur pengamanan aksi. Dugaan kegagalan mengantisipasi bentrokan menjadi salah satu poin yang disorot dalam aksi tersebut.
Aksi solidaritas dijadwalkan berlangsung di Fly Over Polda Sumsel pada Kamis, 15 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB. Koalisi menegaskan bahwa kekerasan terhadap jurnalis menyangkut kemerdekaan pers dan hak publik atas informasi yang tidak bisa ditawar.