PALEMBANG — Rekapitulasi AirNav Indonesia Cabang Palembang menunjukkan 129 penerbangan terdampak sepanjang 1-8 Oktober 2026. Jumlah itu bertambah 12 penerbangan pada 9 Oktober, 38 penerbangan pada 10 Oktober, dan 26 penerbangan pada 11 Oktober. Totalnya menjadi 205 penerbangan dalam 11 hari.
General Manager AirNav Indonesia Cabang Palembang Lanang Wibisono menyebut laporan BMKG mencatat jarak pandang terendah terjadi pada 5 Oktober 2026. Saat itu jarak pandang hanya 200 meter sekitar pukul 06.00 WIB. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang mengganggu kelancaran operasional penerbangan.
Batas Jarak Pandang Pendaratan Bergantung Fasilitas Navigasi
Lanang menjelaskan batas jarak pandang untuk pendaratan di Bandara SMB II tidak seragam. Ketentuannya bergantung pada fasilitas navigasi penerbangan, fasilitas pendaratan di bandara, serta peralatan yang digunakan pesawat.
"Untuk batas jarak pandang pendaratan di Bandara SMB II berbeda-beda, tergantung dari fasilitas navigasi penerbangan yang digunakan, fasilitas pendaratan di bandara, dan equipment di pesawat," kata Lanang, Senin (12/10/2026).
Keputusan akhir melanjutkan pendaratan berada di tangan pilot in command. Pilot mempertimbangkan kemampuan pesawat dan kondisi aktual selama penerbangan.
"Sebelum terbang, pilot juga mempelajari informasi kondisi bandara, termasuk prediksi cuaca," katanya.
Koordinasi AirNav dengan BMKG dan Pihak Bandara
AirNav menyampaikan pembaruan kondisi cuaca kepada pilot dan berkoordinasi soal keputusan operasional. Pilihannya mencakup melanjutkan penerbangan, menunggu di udara atau holding, kembali ke bandara asal atau return to base (RTB), maupun mengalihkan pendaratan ke bandara lain.
AirNav juga berkoordinasi dengan BMKG untuk memperoleh pembaruan cuaca dan perkiraan waktu membaiknya jarak pandang. Informasi keputusan yang diambil pilot selanjutnya diteruskan ke pihak bandara.
Antisipasi Penumpukan Penerbangan Saat Cuaca Membaik
Menurut Lanang, apabila banyak penerbangan tertahan akibat kabut asap, langkah yang bisa dilakukan adalah membuka slot penerbangan tambahan. Opsi lain memperpanjang jam operasional bandara setelah berkoordinasi dengan pihak terkait.
"Apabila sudah terlalu banyak penerbangan karena gangguan kabut asap, dilakukan open slot penerbangan dan atau memperpanjang jam operasional bandara, setelah koordinasi dengan pihak terkait," ujarnya.
Lanang menambahkan kabut asap yang berlangsung terus dapat mengganggu kelancaran lalu lintas penerbangan. Ketika cuaca membaik, penerbangan yang sebelumnya tertahan berpotensi menimbulkan penumpukan lalu lintas udara.
Meski demikian, kapasitas ruang udara dan landas pacu di Palembang dinilai masih memadai. Pemanfaatan kapasitas saat ini rata-rata sekitar 30 persen dan maksimal 40 persen dari kapasitas 27 pergerakan per jam.
"Dengan kapasitas tersebut, penumpukan penerbangan masih dapat ditampung apabila kondisi cuaca membaik. Namun, kelancaran operasional tetap bergantung pada kondisi cuaca dan pemenuhan persyaratan keselamatan penerbangan," ungkapnya.