PALEMBANG — Kabut asap kiriman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti Kota Palembang dalam beberapa hari terakhir memaksa BNPB mengubah strategi penanganan. Pangkalan operasi modifikasi cuaca (OMC) yang semula digerakkan dari Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang, kini dialihkan ke Pangkal Pinang, Bangka Belitung.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut jarak pandang rendah di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi alasan utama pemindahan tersebut. Kondisi itu memengaruhi aktivitas penerbangan, baik komersil maupun operasional pesawat penyemai garam.
Mengapa Pangkalan OMC Harus Dipindah ke Pangkal Pinang?
Berton menjelaskan bahwa kabut asap tidak hanya berdampak pada maskapai penumpang. Operasi modifikasi cuaca yang berbasis di Palembang pun ikut tersendat karena pesawat tidak bisa leluasa lepas landas dan mendarat.
"Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya mengganggu penerbangan komersil di bandara komersial tetapi juga operasi modifikasi cuaca (OMC) yang digerakkan dari Lanud Sri Mulyono Herlambang, Palembang," ujar Berton dalam keterangan tertulis, Minggu (11/10/2026).
Pemindahan basis ke Pangkal Pinang dinilai lebih memungkinkan karena bandara di Bangka Belitung tidak terdampak kabut asap sepekat Palembang. Dari sana, pesawat OMC bisa menjangkau titik-titik panas di Sumatera Selatan tanpa harus menembus lapisan asap yang menutup ruang udara Palembang.
Potensi Awan Hujan Jadi Pertimbangan Utama
Selain soal jarak pandang, BNPB menilai ada peluang pertumbuhan awan hujan di sekitar wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. Kondisi itu menjadi modal penting untuk menyemai awan agar turun hujan dan memadamkan titik api di lahan gambut.
Operasi modifikasi cuaca bergantung pada ketersediaan awan potensial. Tanpa awan yang cukup, penyemaian garam (NaCl) tidak akan menghasilkan hujan yang signifikan. Karena itu, momentum pertumbuhan awan ini dimanfaatkan BNPB untuk mempercepat penanganan karhutla.
Dampak ke Penerbangan Komersil di Bandara SMB II
Kabut asap yang menyelimuti Palembang membuat jarak pandang di Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II menurun dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini memengaruhi jadwal penerbangan, meski BNPB tidak merinci jumlah penerbangan yang tertunda atau dibatalkan.
Bandara SMB II merupakan pintu masuk utama Sumatera Selatan, dengan rute domestik ke Jakarta, Batam, dan sejumlah kota lain, serta penerbangan internasional terbatas. Gangguan di bandara ini berdampak langsung pada mobilitas penumpang dan pengiriman logistik udara.
Langkah Lanjutan BNPB
BNPB belum menyampaikan berapa lama operasi modifikasi cuaca akan digerakkan dari Pangkal Pinang. Evaluasi akan dilakukan bergantung pada perkembangan titik panas dan kondisi cuaca di Sumatera Selatan.
Pemerintah daerah dan instansi terkait diimbau terus memantau kualitas udara serta keselamatan penerbangan selama periode karhutla berlangsung.