Harga Emas Dunia Anjlok 16,51% dalam Enam Bulan ke US$3.912,8 per Ons

Penulis: Amril Fauzan  •  Senin, 02 November 2026 | 09:38:31 WIB
Harga emas dunia tercatat US$3.912,8 per troy ounce, turun 16,51% dibandingkan posisi enam bulan sebelumnya.

SUMATERA SELATAN — Harga emas dunia berada di level US$3.912,8 per troy ounce, turun US$773,5 atau 16,51% dibandingkan posisi enam bulan sebelumnya. Koreksi tajam logam mulia terjadi saat pasar mencerna penunjukan Kevin Warsh sebagai calon pejabat bank sentral AS dan eskalasi konflik di Selat Hormuz. Tekanan jual diperkirakan belum berakhir karena Trading Economics memproyeksikan harga emas turun lagi ke US$3.815,16 pada kuartal IV.

Data Trading Economics yang dikutip Senin (2/11) menunjukkan pelemahan emas bukan hanya terjadi dalam rentang setengah tahun. Secara bulanan, harga logam mulia terkoreksi 5,89%, sementara secara tahunan turun 2,66%. Angka-angka itu menegaskan bahwa tekanan jual bersifat menyeluruh, bukan sekadar koreksi teknis jangka pendek.

Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menyebut ada dua pemicu utama di balik anjloknya harga emas. Pertama, penunjukan Kevin Warsh sebagai calon pejabat bank sentral Amerika Serikat yang mengubah ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan The Fed. Kedua, konflik antara AS dan Iran yang berdampak pada pasokan energi global.

Selat Hormuz dan Rantai Tekanan Inflasi

Ibrahim menjelaskan, blokade yang dilakukan Iran di sekitar Selat Hormuz mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Jalur tersebut menampung sekitar 20% dari total aliran minyak global, sehingga gangguan di sana langsung terasa ke pasar energi.

"Yang akhirnya membuat apa? Membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan. Kenapa mengalami kenaikan? Karena jalur transportasi Selat Hormuz ini 20% minyak itu melalui Selat Hormuz," kata Ibrahim kepada Katadata.

Kenaikan harga minyak lantas merembet ke biaya logistik dan transportasi. Di AS, dampaknya terlihat pada lonjakan harga bahan bakar seperti bensin dan solar yang kembali menekan inflasi.

Mengapa Inflasi Tinggi Menekan Harga Emas

Tekanan inflasi mempersulit posisi emas. Ketika inflasi memaksa The Fed mempertahankan suku bunga tinggi, daya tarik emas menyusut karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil bunga kepada pemegangnya.

Kondisi itu menjelaskan mengapa emas kehilangan pamor meski secara historis dikenal sebagai aset lindung nilai. Investor cenderung memilih instrumen berbunga ketika ekspektasi suku bunga bertahan tinggi, terutama di tengah ketidakpastian geopolitik yang menekan selera risiko.

Prospek: Koreksi Sementara, Safe Haven Tetap Berlaku

Meski harga tertekan dalam, Ibrahim menilai koreksi emas masih bersifat sementara. Menurutnya, logam mulia tetap punya prospek sebagai instrumen lindung nilai dalam jangka panjang.

"Jadi intinya, kesimpulannya bahwa save heaven, yaitu loga mulia. Kalau secara jangka pendek mengalami penurunan itu adalah hal yang wajar," ujarnya.

Ibrahim memperkirakan harga emas berpeluang kembali menguat bila tiga syarat terpenuhi: konflik AS-Iran berakhir, harga minyak mentah turun kembali di bawah US$60 per barel, dan The Fed mulai menurunkan suku bunganya.

Bagi investor ritel di Indonesia, rentang tiga syarat itu menjadi acuan penting. Selama ketiganya belum terpenuhi, tekanan terhadap harga emas global kemungkinan masih berlanjut, sejalan dengan proyeksi Trading Economics ke level US$3.815,16 pada kuartal IV.

Reporter: Amril Fauzan
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top