Latte Lath Blak-blakan soal Carrick, Messi, dan Mental Coach

Penulis: Syahril Hamid  •  Rabu, 28 Oktober 2026 | 17:06:31 WIB
Striker Union Berlin Emmanuel Latte Lath mencetak gol pada menit ketiga debutnya di Bundesliga.

SUMATERA SELATAN — Emmanuel Latte Lath mencetak gol pada menit ketiga debutnya di Bundesliga bersama Union Berlin. Striker 27 tahun itu menyebut momen tersebut sebagai ledakan emosi setelah perjalanan karier yang sempat mandek di MLS bersama Atlanta.

Gol sundulan sederhana ke gawang Eintracht Frankfurt itu menjadi puncak dari perjalanan panjang yang dimulai dari Pantai Gading sebelum pindah ke Italia pada usia delapan tahun. Latte Lath merasakan tekanan besar setelah kepindahannya dari Middlesbrough ke Atlanta senilai 22,5 juta poundsterling.

Bersama Atlanta, ia hanya mencetak 11 gol dalam 48 pertandingan. Angka itu bukan hasil buruk, tapi jauh dari ekspektasi yang dibebankan kepadanya.

Tekanan 22,5 Juta Poundsterling yang Menghimpit di Atlanta

"Itu sulit karena saya datang ke sana dengan banyak ekspektasi," kata Latte Lath kepada Sky Sports.

Ia mengakui tekanan itu terasa di kulit, di perjalanan, dan di sepanjang kariernya. "Saya benar-benar ingin menunjukkan kepada mereka kenapa saya datang ke sana. Dan itu tidak berhasil," ujarnya.

Meski begitu, ada kenangan yang membuatnya tersenyum. Latte Lath sempat bermain melawan Lionel Messi di MLS.

"Saya benar-benar seperti anak kecil ketika melihat idola. Itu luar biasa. Saya tidak akan pernah melupakannya. Saya juga menyentuhnya. Saya bisa menyentuh Messi," tuturnya sambil tertawa.

Pelajaran dari Carrick: Tidak Pernah Berteriak, Tapi Selalu Mendengar

Latte Lath berkembang pesat di Middlesbrough dengan 16 gol pada musim debutnya di Championship. Michael Carrick menjadi pelatih dalam seluruh 29 golnya bersama Boro.

"Dia pelatih yang tenang dan mengamati segalanya. Dari mengamatinya, dia mencoba mengeluarkan versi terbaik dari diri Anda," kata Latte Lath.

Soal cara Carrick menghadapi tekanan di Manchester United, Latte Lath punya pengalaman langsung. "Dari pengalaman saya, ketika kami dalam situasi sulit, dia tidak pernah berteriak seperti orang gila," ujarnya.

"Dia hanya mencoba menganalisis situasi dan para pemain, lalu membantu kami berbicara. Dia tahu cara mendengarkan kami dan cara berbicara dengan kami," tambahnya.

Bekerja dengan Mental Coach demi Potensi yang Belum Penuh

Keterbukaan soal pikiran dan perasaan menjadi hal penting bagi Latte Lath. Ia kini bekerja dengan seorang mental coach.

"Awalnya saya seperti, saya tidak percaya dia. Tapi dia banyak membantu saya. Bukan sekadar 'kamu harus lakukan ini, itu'. Ini soal berbicara," katanya.

Menurutnya, mental coach itu membantunya mengenal diri sendiri dan memahami kebutuhannya. Bantuan itu tidak hanya untuk urusan pekerjaan, tapi juga kehidupan nyata, terutama setelah ia menjadi seorang ayah.

Ujian Berat Bundesliga: Leverkusen, Bayern, Dortmund

Hidup di Bundesliga bersama Union Berlin terasa baru baginya. "Pelatih baru, sistem baru, semuanya baru," ucapnya.

Latte Lath sadar level kompetisi ini lebih tinggi. "Ini intens, kerja keras, dan kamu tidak punya waktu untuk beristirahat atau berpikir," ujarnya.

Musim ini ia sudah menghadapi Bayer Leverkusen, Bayern Munich, dan Borussia Dortmund. Soal bermain melawan Harry Kane, ia menegaskan kekalahan tetap tidak menyenangkan, tapi sepak bola adalah perjalanan untuk belajar.

Reporter: Syahril Hamid
Sumber: skysports.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top