PALEMBANG — Pemantauan aplikasi IQAir pada pukul 04.00 WIB mencatat kawasan Sukarami berada di indeks 168, Talang Betutu 188, Demang Lebar Daun 156, dan Universitas Sriwijaya 154. Keempatnya masih masuk kategori tidak sehat. Kawasan Musi 2 tercatat 131 atau tidak sehat bagi kelompok sensitif, sementara titik GP PLM belum disertai angka indeks dalam pemantauan tersebut.
Angka itu muncul meski hujan sudah turun di sejumlah wilayah Palembang. Warga yang memiliki gangguan pernapasan, anak-anak, dan lansia diminta tetap mewaspadai dampak kabut asap.
Kepala Stasiun Meteorologi Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II Palembang, Siswanto, menyebut potensi hujan terpantau dari pembaruan model cuaca BMKG periode 24–28 Oktober 2026. Tim memaksimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan bahan semai natrium klorida (NaCl).
"Berdasarkan data model yang kami perbarui pada 24 hingga 28 Oktober 2026, diprakirakan terdapat potensi pertumbuhan awan hujan. Oleh karena itu, tim memaksimalkan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dengan menggunakan bahan semai natrium klorida (NaCl)," kata Siswanto, Minggu (25/10/2026).
Citra radar cuaca BMKG mendeteksi hujan di sejumlah wilayah Sumatera Selatan sejak Sabtu (24/10/2026). Wilayah itu meliputi Banyuasin, Palembang, Musi Banyuasin, Muara Enim, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Lahat, Pagaralam, serta sebagian OKI, Ogan Ilir, dan OKU Selatan.
Alat penakar hujan ARG di Jakabaring mencatat 0,6 milimeter, sedangkan penakar hujan otomatis di Stasiun Klimatologi Sumsel mencatat 11 mm. ARG Pulau Panggung di Muara Enim mencatat 10 mm.
Siswanto menjelaskan hujan yang terdeteksi radar tidak selalu tercatat alat penakar. Penyebabnya, hujan bisa turun di lokasi yang jauh dari titik pemasangan alat ukur.
Pada Senin (26/10/2026), hujan sedang berpotensi terjadi di OKU Selatan. Sehari berikutnya, potensi hujan sedang diperkirakan meliputi OKI, Ogan Ilir, OKU Timur, OKU Selatan, Muara Enim, PALI, Prabumulih, Lahat, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Musi Banyuasin, dan Banyuasin.
Hujan tersebut diharapkan mengurangi dampak kekeringan dan mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Namun hujan tidak serta-merta menghilangkan risiko kebakaran maupun kabut asap.
Sejumlah sekolah di Palembang masih menerapkan pembelajaran jarak jauh pada Senin (26/10/2026). Pihak sekolah dan orang tua siswa menantikan keputusan resmi pemerintah daerah soal pembelajaran tatap muka.
Kepastian itu dinilai penting agar sekolah bisa mempersiapkan kegiatan belajar mengajar dengan mempertimbangkan kualitas udara dan kesehatan peserta didik. Pemerintah daerah diharapkan segera menyampaikan keputusan resmi, termasuk melalui surat edaran yang menjadi pedoman bagi sekolah.
Perkembangan kualitas udara dan kondisi cuaca masih menjadi faktor penentu langkah perlindungan bagi siswa dan tenaga pendidik.