PALEMBANG — Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Palembang Kemas Haikal menyebut penurunan 0,69 poin itu bukan angka kecil. Menurut dia, capaian tersebut merupakan hasil kerja kolektif Pemkot Palembang bersama seluruh pemangku kepentingan yang dinilai tepat sasaran.
"Alhamdulillah, ini kabar baik untuk kita semua. Data resmi BPS Maret 2026 menunjukkan tren positif. Penurunan 0,69 poin ini bukan angka kecil, ini bukti kerja kolektif Pemkot Palembang dan seluruh stakeholder tepat sasaran," ujar Kemas Haikal saat dikonfirmasi, Sabtu (17/10/2026).
Data BPS yang dikutip Diskominfo menempatkan Kota Pagar Alam di posisi teratas dengan angka kemiskinan 7,12 persen. Kabupaten Banyuasin menyusul di bawahnya dengan 8,28 persen, lalu Palembang di urutan ketiga dengan 8,35 persen.
BPS mencatat perbaikan pada dua indikator kunci selain persentase kemiskinan. Indeks Kedalaman Kemiskinan (P1) turun 0,18 poin menjadi 1,22, yang berarti rata-rata pengeluaran warga miskin semakin mendekati garis kemiskinan.
Indeks Keparahan Kemiskinan (P2) juga turun 0,05 poin menjadi 0,27. Angka itu menandakan ketimpangan antar penduduk miskin semakin kecil dan lebih merata.
Secara nasional, angka kemiskinan Indonesia berada di level 8,25 persen. Posisi Palembang 0,1 poin di atas rata-rata nasional, tetapi masih jauh lebih baik dibanding rata-rata Sumatera Selatan.
Dari 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan, Kota Pagar Alam memimpin dengan kemiskinan 7,12 persen, turun dari 7,70 persen pada 2025. Banyuasin di posisi kedua dengan 8,28 persen, disusul Palembang 8,35 persen.
Perubahan paling mencolok terjadi di Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara). Angka kemiskinan di sana turun drastis dari 15,25 persen menjadi 11,70 persen, turun 3,55 poin dalam setahun.
Berikut daftar lengkap angka kemiskinan se-Sumsel 2025 dibandingkan 2026:
Dengan angka 8,35 persen, Palembang berada jauh di bawah rata-rata kemiskinan Sumatera Selatan yang tercatat 10,15 persen per September 2025. Selisihnya mencapai 1,8 poin.
Pemerintah Kota Palembang belum merinci program apa yang paling berkontribusi terhadap penurunan tersebut. Kemas Haikal hanya menyebut capaian ini sebagai hasil kolaborasi lintas instansi yang tepat sasaran.