PALEMBANG — Kabid Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman menyebut kenaikan jumlah hotspot cukup tinggi dan diprediksi masih bisa bertambah. Data pantauan satelit menjadi dasar penguatan patroli di lapangan, terutama di wilayah yang dipetakan rawan terbakar pada musim kemarau 2026.
Sebulan terakhir, kabut asap mulai mengganggu kesehatan warga dan sejumlah aktivitas, termasuk kegiatan belajar di sekolah. Kondisi itu membuat BPBD memperketat pengawasan di titik-titik yang berpotensi muncul api.
Empat kabupaten dipetakan paling rawan karhutla pada musim kemarau tahun ini. Wilayah-wilayah itu menjadi prioritas patroli darat maupun udara.
Sumsel memiliki kawasan hutan sekitar 3,5 juta hektare. Luasan itu membuat pengawasan tidak bisa hanya mengandalkan petugas di satu titik.
Patroli udara didukung sejumlah helikopter dari BNPB. Sementara untuk patroli darat, BPBD menyiapkan berbagai peralatan pemadam api dan tindakan lain guna mencegah karhutla.
Satgas gabungan TNI/Polri dan Manggala Agni terlibat dalam penguatan patroli tersebut. Sudirman menyatakan langkah pencegahan dijalankan sebagai bentuk tanggung jawab pelaksanaan tugas menghadapi karhutla.
"Berdasarkan data hasil pantauan satelit peningkatan jumlah titik panas (hotspot) cukup tinggi, sebelumnya terdapat sekitar 600 titik, hari ini terpantau 759 titik dan diprediksi bisa terus meningkat," kata Sudirman di Palembang, Senin.
BPBD mengimbau warga menghindari kegiatan membakar sampah dan pembersihan lahan. Lahan yang kering diminta dibasahi untuk menekan risiko munculnya api.
Warga yang tinggal di daerah rawan diminta lebih waspada. Peningkatan titik panas dapat memicu karhutla sekaligus memperparah kabut asap yang sudah berdampak ke aktivitas harian.