SUMATERA SELATAN — Aktor pemenang Oscar lewat Gladiator itu dikenal sering tersulut emosinya, baik di ranah privat maupun publik. Di Venice kali ini, ia tampil lebih tenang dan reflektif saat membahas proyek yang ia sebut sebagai passion project selama 15 tahun.
Crowe menjelaskan bahwa film ini lahir dari pertanyaan yang paling sering ia dengar sepanjang karier. Ia ingin mendefinisikan perbedaan antara musik dan akting.
"The film attempts to explain the two things are completely intertwined for me," ujarnya dalam konferensi pers sebelum pemutaran perdana.
Menurutnya, semua yang ia kerjakan berasal dari sumber kreatif yang sama. Ia berharap setelah orang menonton film ini, pertanyaan soal musik versus akting tak lagi sering muncul.
Ditanya soal aspek bermusik yang lebih ia nikmati dibanding akting, Crowe menyoroti hubungan dengan penonton. Ia mengaku kemampuan menggerakkan audiens di panggung memengaruhi cara ia berakting di depan kamera.
"Everything that I do as a film actor is informed because I know how to drive an audience, live, even if they're not in the room," katanya.
Ia menegaskan bukan berarti dirinya budak penonton. Kesadaran itu, kata Crowe, tumbuh dari pengalaman bermain musik rock dan teater.
Crowe juga ditanya apakah ia akan memilih menjadi musisi terkenal ketimbang aktor terkenal jika bisa mengulang kariernya. Ia menjawab tidak punya rencana besar sejak awal.
"I didn't have a plan, and I still don't have a plan. I just do what becomes apparent to me," ucapnya.
Ia menegaskan tak ingin mengubah apa pun dari karier yang sudah dijalaninya. Bahkan di momen terkelam, pengalaman itu menurutnya sangat mendidik.
Di usia 62 tahun, Crowe mengaku puas dengan posisi kariernya saat ini. Ia menyebut sejumlah proyek yang tengah dinantikan, termasuk Highlander, The Last Druid, dan Unabomber.
Ia mengaitkan umur panjang kariernya dengan cara pandang yang murni saat memilih proyek. Crowe menyebut dirinya harus tahu alasan bangun pukul 04.30 untuk ke lokasi syuting.
"I feel very sorry for actors who make decisions to go on films sets where they don't believe in the subject matter," ujarnya.
Crowe lalu menyinggung soal cara ia mengelola hubungannya dengan industri Hollywood. Ia menyebut telah "mismanaged" relasi tersebut, tetapi selalu menguntungkan dirinya.
"I think I've made it pretty clear that I've mismanaged my relationship with Hollywood. But always to my benefit," katanya.
Ia menilai orang butuh waktu lama untuk menyadari bahwa dirinya bukan orang Amerika. Pada masa awal kesuksesan, banyak yang berasumsi demikian.
Crowe menegaskan dirinya tidak digerakkan oleh hal-hal yang sama dengan mereka yang tumbuh dari budaya Hollywood. What Love Builds menjadi bukti bahwa ia tetap memilih jalur yang ia yakini, termasuk di dunia musik.