PALEMBANG — Paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menyelimuti Palembang. Data pantauan Stasiun Pemantau Kualitas Udara (SPKU) Musi 2 Palembang milik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan konsentrasi PM2.5 berada di level tertinggi dengan kategori sangat tidak sehat.
Angka tersebut tercatat pada pukul 03.00 WIB dan bertahan hingga pagi hari. Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, menjelaskan bahwa partikel udara berukuran kurang dari 2,5 mikrometer ini menjadi indikator utama buruknya kualitas udara yang dihirup warga setiap hari.
PM2.5 adalah partikel halus yang ukurannya lebih kecil dari atau sama dengan 2,5 mikrometer. Karena sangat kecil, partikel ini bisa terhirup jauh ke dalam paru-paru dan masuk ke aliran darah.
BMKG mengukur konsentrasi partikel ini menggunakan metode penyinaran sinar beta atau Beta Attenuation Monitoring. Hasil pengukuran menunjukkan konsentrasi di Palembang berada di angka 235,6 µg/m³, jauh di atas ambang batas kategori tidak sehat yang biasanya berada di kisaran 55-150 µg/m³.
Wandayantolis menyampaikan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh asap karhutla yang terjadi di beberapa daerah di Sumatera Selatan. Arah angin membawa partikel asap tersebut masuk ke wilayah perkotaan Palembang dan menumpuk di lapisan udara bawah.
Akumulasi partikel inilah yang membuat kualitas udara di Palembang memburuk dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini biasanya memburuk pada malam hingga pagi hari ketika suhu udara turun dan kelembapan meningkat, sehingga asap lebih mudah terperangkap di permukaan tanah.
Menyikapi kondisi ini, Wandayantolis mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan. Imbauan ini ditujukan khususnya bagi warga yang memiliki riwayat gangguan pernapasan seperti asma, bronkitis, atau penyakit paru obstruktif kronis.
"Jika terpaksa harus ke luar rumah, baiknya melindungi diri dengan masker dan kacamata," kata Wandayantolis dalam keterangannya, Kamis (3/9).
Penggunaan kacamata dinilai penting untuk melindungi mata dari iritasi akibat paparan asap dalam waktu lama. Sementara itu, masker berstandar N95 atau KN95 lebih disarankan dibandingkan masker kain biasa karena mampu menyaring partikel halus PM2.5 yang menjadi pemicu utama gangguan kesehatan saat kabut asap melanda.