6 Kebiasaan Orang Tua yang Diam-diam Membentuk Perilaku Buruk Anak

Penulis: Rizal Fikri  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 09:08:31 WIB
Seorang anak memegang ponsel di ruang keluarga, menggambarkan kebiasaan orang tua menggunakan gawai sebagai pengalih perhatian anak.

SUMATERA SELATAN — Setiap orang tua pasti ingin memberikan yang terbaik untuk buah hatinya. Namun, tanpa disadari, beberapa kebiasaan kecil yang kita anggap wajar bisa berdampak besar pada perilaku anak hingga ia dewasa nanti.

Dr. Roseann Capanna-Hodge, psikolog anak yang dikutip dari Upworthy, menjelaskan bahwa ada enam kebiasaan umum yang sebaiknya dihindari. Kabar baiknya, semua kebiasaan ini bisa diperbaiki dengan langkah sederhana. Berikut ulasannya untuk Bunda.

1. Mengandalkan Layar Ponsel sebagai "Penjaga" Anak

Siapa yang tidak pernah memberikan ponsel agar anak tenang saat kita sibuk? Semua orang tua pasti pernah melakukannya. Namun, kebiasaan ini perlu dikurangi secara bertahap.

Menurut laporan Common Sense Media tahun 2023, anak usia 0-8 tahun menghabiskan lebih dari 2,5 jam per hari di depan layar elektronik. Dampaknya bukan sekadar mata lelah, tetapi juga mengganggu suasana hati, pola tidur, hingga kemampuan bersosialisasi. Anak bisa kecanduan dan menjadikan ponsel sebagai pelarian dari rasa bosan atau emosi yang tidak nyaman.

2. Lupa bahwa Anak Meniru, Bukan Mendengar

Anak-anak belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat, bukan dari apa yang mereka dengar. Ketika orang dewasa di rumah berdebat dengan nada kasar, menutup diri, atau memperlakukan orang lain tidak hormat, anak akan menganggap itu hal yang normal.

Studi perkembangan anak tahun 2023 menemukan bahwa kemampuan mengelola emosi anak sangat mencerminkan kondisi yang ia lihat di rumah. Jadi, sebelum meminta anak bersikap baik, pastikan kita sudah memberi contoh yang baik.

3. Membiarkan Pola Negatif Berulang

Tekanan pekerjaan, masalah keuangan, dan kurang tidur memang bisa mengikis kesabaran. Terkadang kita meninggikan suara atau mengkritik anak tanpa sadar. Padahal, kebiasaan ini bisa memengaruhi rasa aman dan kepercayaan diri anak.

Menurut Capanna-Hodge, terlalu sering berteriak membuat anak merasa takut dan kesulitan mengelola stres. Anak-anak butuh lingkungan yang tenang untuk tumbuh, bukan lingkungan yang penuh ketegangan.

4. Memicu Rasa Bersalah pada Anak

Pernah berkata, "Bunda sedih kalau kamu nakal," atau "Ayah kecewa karena kamu tidak patuh"? Hati-hati, pola asuh yang memicu rasa bersalah bisa melekat di benak anak seumur hidupnya.

Beberapa studi menunjukkan bahwa rasa bersalah yang ditanamkan sejak kecil berkaitan dengan kecemasan berlebih, kecenderungan selalu ingin membahagiakan orang lain, dan kesulitan menentukan keinginan diri sendiri saat dewasa.

5. Aturan yang Tidak Konsisten

Banyak orang tua bingung mengapa anak sulit mendengarkan. Padahal, akar masalahnya bukan pada anak yang nakal, melainkan aturan yang berubah-ubah. Hari ini boleh, besok dilarang, lusa dibolehkan lagi—anak pun bingung.

"Aturan yang tidak konsisten menciptakan kebingungan dan rasa tidak aman," ujar Capanna-Hodge. Anak justru lebih mudah belajar jika batasan yang diberikan jelas dan diterapkan secara konsisten.

6. Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Membandingkan anak sering kali muncul dari kecemasan orang tua yang khawatir perkembangan buah hatinya tertinggal. Namun, kebiasaan ini justru merusak kepercayaan diri anak.

Anak yang sering dibandingkan akan merasa tertekan untuk selalu membuktikan diri, bukan untuk mengembangkan potensinya sendiri. Ia tumbuh dengan perasaan tidak pernah cukup baik di mata orang tuanya.

Kapan Orang Tua Perlu Lebih Waspada?

Jika Bunda merasa beberapa kebiasaan di atas sudah telanjur sering dilakukan, tidak perlu panik. Mulailah dengan perubahan kecil hari ini. Konsistensi adalah kunci utama.

Namun, jika anak sudah menunjukkan tanda-tanda seperti menarik diri dari lingkungan sosial, kesulitan tidur berkepanjangan, atau perubahan suasana hati yang drastis, pertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikolog anak profesional.

Mengasuh anak memang tidak ada sekolahnya, dan setiap orang tua pasti pernah melakukan kesalahan. Yang terpenting adalah kesediaan untuk belajar dan memperbaiki diri demi masa depan anak yang lebih baik.

Reporter: Rizal Fikri
Sumber: haibunda.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top