SUMATERA SELATAN — Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menegaskan bahwa perusahaan perkebunan pelat merah tidak bisa langsung tancap gas membangun proyek hilirisasi berskala besar. Semua harus dimulai dari percobaan terbatas.
"Sebelum kita mulai yang skala besar, teman-teman mesti trial dulu di skala kecil. Success rate-nya harus dilihat dulu, begitu juga return on investment yang bisa dicapai," kata Dony dalam rapat bersama direksi PTPN Group, Kamis (6/8) lalu.
Pernyataan itu disampaikan Dony melalui akun Instagram resmi BP BUMN, Jumat (7/8). Rapat tersebut membahas kesiapan PTPN menjalankan program hilirisasi dan pengembangan komoditas strategis, mulai dari tahap perencanaan, riset, hingga penyusunan model bisnis.
Dony meminta setiap keputusan investasi didasari studi kelayakan yang komprehensif. Bukan hanya soal hitung-hitungan bisnis, tetapi juga produktivitas lahan dan proyeksi tingkat pengembalian investasi alias ROI.
Yang menarik, aspek lingkungan juga menjadi perhatian serius. Dony menegaskan pengembangan proyek tidak boleh mengurangi fungsi kawasan resapan air. Artinya, hilirisasi yang dibangun harus ramah lingkungan sejak dari perencanaan.
Pendekatan bertahap ini dinilai penting agar investasi yang digelontorkan benar-benar menghasilkan nilai tambah berkelanjutan. Risiko kegagalan proyek yang biasanya menghabiskan biaya besar bisa ditekan seminimal mungkin.
Program hilirisasi PTPN ini bukan sekadar proyek bisnis biasa. Pemerintah menaruh harapan besar pada sektor ini untuk memperkuat ketahanan pangan dan energi nasional.
Selama ini Indonesia masih mengimpor sejumlah komoditas strategis yang sebenarnya bisa diproduksi sendiri. Melalui hilirisasi, rantai pasok di dalam negeri diperkuat, ketergantungan terhadap impor berkurang, dan daya saing industri nasional ikut terdongkrak.
Dengan skema yang dijalankan secara bertahap dan berbasis kajian matang, BP BUMN dan Danantara yakin pengembangan hilirisasi PTPN bisa menjadi motor pertumbuhan sektor perkebunan. Dampaknya nanti dirasakan langsung oleh petani, industri pengolahan, hingga perekonomian nasional secara keseluruhan.
Langkah ini juga menjadi sinyal bahwa investasi BUMN ke depan tidak lagi asal jalan. Setiap proyek harus melewati proses uji kelayakan yang ketat, membuktikan potensi keuntungannya, baru kemudian dikembangkan dalam skala penuh.