SUMATERA SELATAN — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membeberkan penyebab Indonesia gagal menarik puluhan perusahaan yang merelokasi pabriknya dari China. Dalam periode perang dagang China-Amerika Serikat 2016-2017, sebanyak 32 perusahaan memilih Vietnam sebagai tujuan relokasi, sementara Indonesia tak kebagian jatah.
Bahlil menuturkan, dirinya sempat diminta menelusuri akar persoalan tersebut. Hasilnya, ditemukan disparitas harga tanah yang mencolok di kawasan industri. "Ada 32 perusahaan yang hengkang dari China ke Vietnam, Indonesia tidak dapat kebagian," kata Bahlil dalam acara ulang tahun ke-50 sekaligus peluncuran 10 bukunya di Jakarta Theater, Jumat, 7 Agustus.
Selisih harga tanah menjadi temuan krusial dalam investigasi tersebut. Di Vietnam, harga tanah kawasan industri dibanderol sekitar Rp600.000. Sementara di Indonesia, angkanya bisa mencapai Rp2 juta—lebih dari tiga kali lipat.
"Saya katakan lagi, ini bukan kawasan industri, ini kawasan industri tanah," ujarnya menggambarkan mahalnya biaya lahan di dalam negeri.
Temuan itu menjadi titik tolak lahirnya gagasan pembangunan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). Konsepnya, negara turun tangan membangun kawasan industri dengan harga tanah yang lebih kompetitif. Saat itu, harga tanah di kawasan Batang dipatok sekitar Rp600.000, sejajar dengan Vietnam.
Bahlil menegaskan, penyusunan konsep dan rencana induk kawasan tersebut merupakan kerja kolektif, bukan kerja perorangan. "Bukan saya yang hebat, tapi tim Kementerian Investasi yang hebat," katanya.
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga mengenang dinamika politik yang menyertai pembangunan kawasan tersebut. Nama KITB sempat dipelesetkan oleh anggota Komisi VI DPR menjadi "Kawasan Industri Terpadu Bahlil". Cerita ini turut diabadikan dalam buku yang ia luncurkan, yang menyoroti Batang sebagai magnet investasi baru.