SUMATERA SELATAN — Data box office Cinepoint yang dilansir Screen Daily pada Sabtu (1/8/2026) menunjukkan perkiraan pendapatan kotor mencapai Rp2,48 triliun dengan rata-rata harga tiket Rp46.056. Penurunan jumlah penonton ini terjadi di tengah gempuran konten streaming, namun posisi film lokal justru semakin kokoh di pasar domestik.
Seluruh posisi lima besar box office paruh pertama 2026 diisi oleh film dalam negeri. Danur: The Last Chapter memuncaki daftar dengan 3,62 juta penonton. Sekuel keempat waralaba horor ini kembali mempertemukan sutradara Awi Suryadi dengan aktris Prilly Latuconsina.
Di bawahnya, film horor komedi garapan Joko Anwar, Ghost In The Cell, mengumpulkan 3,38 juta penonton. Film ini sempat melakukan pemutaran perdana di Festival Film Berlin (Berlinale) pada Februari 2026 sebelum resmi tayang di dalam negeri pada 16 April.
Drama keluarga arahan Naya Anindita, Tunggu Aku Sukses Nanti, menempati posisi ketiga dengan 3 juta penonton. Disusul Alas Roban karya Hadrah Daeng Ratu dengan 2,43 juta penonton, serta komedi horor Sekawan Limo 2: Gunung Klawih besutan Bayu Skak yang mengumpulkan 2,06 juta penonton.
Dua film teratas, Danur: The Last Chapter dan Tunggu Aku Sukses Nanti, sama-sama dirilis pada 18 Maret 2026 bertepatan dengan libur Idulfitri. Periode ini memang selalu menjadi ladang panen bagi distributor karena minat masyarakat menonton di bioskop melonjak signifikan.
Total lima film lokal tayang saat momen Lebaran tahun ini. Selain dua judul tersebut, ada Suzzanna: Santet Dosa di Atas Dosa arahan Azhar Kinoi Lubis dengan 1,53 juta penonton, drama Na Willa karya Ryan Adriandhy yang meraih 1,4 juta penonton, serta Senin Harga Naik garapan Dinna Jasanti dengan 1,18 juta penonton.
Dampaknya terlihat jelas pada angka bulanan. Maret menjadi periode dengan jumlah penonton tertinggi sepanjang paruh pertama 2026, mencapai 11,84 juta. April menyusul di posisi kedua dengan 9,92 juta penonton, didorong oleh perilisan Ghost In The Cell yang sukses menarik jutaan pasang mata ke layar lebar.
Yang menarik dari data Cinepoint ini adalah proporsi penonton. Film Indonesia menyumbang hampir 72 persen dari seluruh penerimaan penonton bioskop sepanjang Januari–Juni 2026. Capaian itu terbilang impresif mengingat jumlah judul lokal yang dirilis hanya sekitar sepertiga dari keseluruhan film yang tayang.
Artinya, rata-rata film lokal mampu menggaet penonton jauh lebih banyak dibanding film impor. Meski pasar secara keseluruhan menyusut, loyalitas penonton Indonesia terhadap karya sendiri justru menunjukkan tren menguat.
Penurunan 16,7 persen ini bisa dibaca sebagai normalisasi setelah tahun sebelumnya yang luar biasa, sekaligus sinyal bahwa industri tetap sehat dengan fondasi penonton lokal yang solid. Pertanyaannya kini, mampukah paruh kedua 2026 mengembalikan momentum pertumbuhan?