Belajar dari Desa Penglipuran Bali, Sumsel Dinilai Butuh Tata Kelola Pariwisata Terpadu Bukan Sekadar Objek Wisata

Penulis: Hamdani Putra  •  Selasa, 28 Juli 2026 | 18:54:02 WIB
Suasana jalan utama Desa Penglipuran, Bali, yang bersih dan tertata rapi dengan rumah adat di kedua sisinya.

PALEMBANG — Langkah kaki di jalan utama Desa Penglipuran, Bangli, menyisakan kesan yang sulit dijelaskan. Jalanan lurus dan bersih, rumah adat berdiri rapi, udara sejuk, dan yang paling membekas adalah senyum warga yang menyapa setiap pengunjung. Tidak ada klakson, tidak ada sampah. Desa ini membuktikan bahwa destinasi kelas dunia lahir dari budaya yang lestari, lingkungan terjaga, dan masyarakat sebagai aktor utama, bukan dari investasi mahal.

Modal Besar Sumsel yang Masih Terpisah

Sumatera Selatan sejatinya punya amunisi yang tidak kalah. Sungai Musi sebagai urat nadi peradaban Sriwijaya, Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, Pulau Kemaro, Kampung Al Munawar, Danau Ranau, hingga Gunung Dempo adalah kekayaan yang sulit dicari tandingannya. Rumah limas, kain songket, seni tradisi, dan pempek yang sudah mendunia juga menjadi daya tarik tersendiri.

Namun, potensi itu masih berjalan sendiri-sendiri. Wisatawan datang ke satu titik, lalu pulang tanpa pengalaman yang utuh. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menempatkan Bali sebagai provinsi dengan kunjungan tertinggi, di mana sektor pariwisata mendorong konsumsi, UMKM, dan lapangan kerja. Artinya, masalah Sumsel bukan kekurangan destinasi, melainkan belum adanya tata kelola yang menyatukan semuanya.

Tiga Langkah yang Bisa Diadopsi dari Penglipuran

Pelajaran terbesar dari Penglipuran adalah keterlibatan warga. Hampir seluruh penduduk menjaga kebersihan, melestarikan budaya, mengelola homestay, menjual kerajinan, hingga menjadi pemandu. Ketika wisata berkembang, manfaat ekonomi kembali ke masyarakat. Model berkelanjutan ini bisa diadaptasi Sumsel melalui tiga langkah.

Pertama, membangun Koridor Wisata Sriwijaya. Kawasan Benteng Kuto Besak, Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, Kampung Al Munawar, Pulau Kemaro, dan sentra songket diikat dalam satu paket terpadu. Cukup satu tiket untuk menikmati pelayaran Sungai Musi, pertunjukan budaya, kuliner, museum, hingga UMKM. Lama tinggal wisatawan meningkat, perputaran ekonomi pun mengalir.

Kedua, program Satu Desa Satu Ikon Wisata. Setiap desa didorong memiliki identitas kuat. Desa di kawasan Gunung Dempo bisa fokus pada wisata kopi dan homestay, desa sekitar Danau Ranau pada ekowisata, Kampung Al Munawar sebagai pusat sejarah dan budaya. Cara ini menciptakan karakter yang saling melengkapi, bukan bersaing.

Ketiga, Digital Tourism Sumsel. Setiap destinasi dilengkapi kode QR berisi sejarah, peta digital, jadwal pertunjukan, reservasi homestay, hingga produk UMKM yang bisa dibeli daring. Wisatawan mendapat kemudahan informasi, pelaku lokal mendapat akses pasar lebih luas.

Standar Pelayanan dan Citra Baru yang Perkuat

Tiga gagasan itu harus ditopang standar pelayanan seragam. Kebersihan, fasilitas umum layak, papan informasi jelas, keamanan, dan keramahan masyarakat harus menjadi identitas baru. Penglipuran membuktikan hal-hal sederhana itulah yang membuat wisatawan kembali.

Promosi juga perlu konsisten. Jika Bali dikenal sebagai Pulau Dewata, Sumsel perlu memperkuat citra "Bumi Sriwijaya: Negeri Sungai, Budaya, dan Ekowisata". Identitas itu harus hadir di setiap festival, promosi digital, dan kolaborasi dengan kreator konten agar mudah dikenali.

Keberhasilan Penglipuran menegaskan bahwa destinasi kelas dunia tidak selalu butuh investasi besar. Yang lebih penting adalah komitmen menjaga budaya, memberdayakan masyarakat, dan mengelola potensi secara berkelanjutan. Sumsel telah memiliki semua modal. Kini saatnya mengubah paradigma dari sekadar membangun objek wisata menjadi membangun ekosistem pariwisata.

Reporter: Hamdani Putra
Sumber: bidiksumsel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top