SUMATERA SELATAN — Data DailySocial yang dilansir Bloombergtechnoz menunjukkan betapa drastisnya kontraksi industri ini. Dari mesin cetak uang di 2021, aliran modal asing dan lokal kini mengerut drastis. Pemicu utamanya bukan sekadar kondisi makro ekonomi global, melainkan krisis kepercayaan yang dipicu oleh praktik curang di tubuh startup yang sebelumnya dianggap bintang.
Dua peristiwa besar menjadi titik balik. Pertama, dugaan manipulasi laporan keuangan di eFishery, unicorn agritech yang selama ini menjadi kebanggaan ekosistem. Kedua, kasus dugaan penyalahgunaan dana di modal ventura BUMN. Bloombergtechnoz menyebut rentetan ini sebagai gelombang keruntuhan kepercayaan yang memicu krisis besar di ekosistem digital.
Dampaknya langsung terasa di segmen paling rentan: pendanaan tahap awal. Investor kini enggan menanggung risiko hukum dan reputasi dari startup yang belum memiliki tata kelola matang. Akibatnya, startup jujur dengan fundamental sehat ikut terseret karena tak punya rekam jejak panjang untuk membuktikan kredibilitasnya di tengah pasar yang waspada.
Pola ini bukan hal baru dalam literatur ekonomi. Ekonom George Akerlof dalam makalahnya tahun 1970 menjelaskan fenomena "pasar lemon": ketika asimetri informasi terjadi, pihak yang memiliki data lebih lengkap—dalam hal ini founder—bisa mengeksploitasi ketidaktahuan investor. Akibatnya, investor menarik diri atau menerapkan penyaringan super ketat, dan yang paling dirugikan justru startup berkualitas.
Teori sinyal pun berbalik menjadi bumerang. Sinyal seperti pitch deck mengilap atau dewan penasihat bergengsi seharusnya mahal dan sulit dipalsukan agar informatif. Tapi begitu laporan keuangan bisa dimanipulasi, seluruh mekanisme kepercayaan ambruk. Investor tak lagi bisa membedakan startup berkualitas dari yang pandai membangun citra, sehingga solusi rasionalnya adalah menahan diri dari semua orang—persis fenomena "funding winter" yang kini terjadi.
Masalah keagenan juga memperparah situasi. Ketika dana investor sudah cair, tidak ada jaminan founder akan bekerja seoptimal saat masih meyakinkan calon pemodal. Insentif yang tidak selaras ini mendorong investor menuntut audit independen, standardisasi pelaporan, dan keterlibatan lebih dalam pada keputusan strategis.
Menariknya, respons pasar justru mengonfirmasi prinsip dasar pembiayaan tahap awal: risiko yang tak bisa dihapus hanya bisa dipindahkan bentuknya. Bloombergtechnoz mencatat sebagian investor kini bergeser dari pendanaan ekuitas ke venture debt dan skema pembiayaan terstruktur yang dinilai lebih aman. Instrumen utang memberi kepastian pembayaran yang tak bergantung pada kejujuran laporan pertumbuhan, sementara ekuitas modal ventura pada dasarnya adalah taruhan pada kualitas orang dan kejujuran angka.
Ironisnya, krisis ini mungkin menjadi terapi yang dibutuhkan. Era pertumbuhan tanpa batas telah usai, digantikan tuntutan agar startup membuktikan jalur menuju profitabilitas sebelum meminta modal tambahan. Kualitas tim, transparansi laporan, dan konsistensi antara narasi dan angka—hal-hal yang dulu dianggap administratif—kini menjadi penentu hidup mati sebuah perusahaan rintisan. Pelajaran lamanya sederhana: dalam pembiayaan berisiko tinggi, kepercayaan adalah satu-satunya mata uang yang tak bisa dipalsukan.