MUARA ENIM — Pertemuan antara jajaran MUI Muara Enim dengan manajemen PT TEL itu tidak hanya membahas program dakwah konvensional. Diskusi merambah hingga persoalan fikih kontemporer yang dekat dengan keseharian masyarakat, seperti proses pencucian di usaha laundry yang harus memenuhi syarat kesucian dalam Islam.
“Pakaian yang dipakai untuk salat bukan hanya harus bersih, tetapi juga suci. Maka kita perlu memastikan prosesnya juga memenuhi syarat kesucian dalam Islam,” ujar Ketua Umum MUI Muara Enim, Dr KH Solihan, dalam keterangan yang diterima, Rabu (19/2).
Dalam pertemuan itu, MUI menawarkan sejumlah program konkret yang bisa dijalankan bersama perusahaan. Mulai dari pelatihan juru sembelih halal (Juleha), pengiriman khatib Jumat untuk masjid-masjid di sekitar perusahaan, pelatihan pengurusan jenazah, hingga pendampingan sertifikasi halal bagi pelaku UMKM binaan PT TEL.
Dewan Pertimbangan MUI Muara Enim, H Taufik Rahman, menekankan bahwa dakwah tidak bisa hanya dilakukan dari atas mimbar. “Kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan harus berjalan bersama. Dakwah tidak cukup hanya di mimbar, tetapi juga harus hadir memberi manfaat nyata bagi umat,” katanya.
KH Solihan menggambarkan pentingnya kebersamaan melalui filosofi sapu lidi. Menurutnya, satu lidi mudah dipatahkan, tetapi jika disatukan akan menjadi kuat. “MUI ingin menjadi perekat kebersamaan itu,” ujarnya.
Ia menambahkan, MUI menaungi banyak organisasi Islam, mulai dari Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, hingga Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia. Sinergi semua elemen ini, kata dia, akan memperluas manfaat bagi masyarakat sekitar perusahaan.
Di sisi lain, diskusi juga menyentuh aspek keselamatan kerja. Anggota Dewan Pertimbangan MUI Muara Enim, KH Taufik Hidayat, yang juga pendiri Pondok Pesantren Laa Roiba, mengingatkan bahwa budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tidak cukup hanya dibangun lewat aturan teknis. “Orang yang bekerja dengan kesadaran bahwa pekerjaannya adalah amanah, akan lebih berhati-hati dan bertanggung jawab,” katanya.
HR & CA Director PT TEL, Mochamad Amrodji, mengakui bahwa teknologi secanggih apa pun tidak bisa menggantikan kebutuhan manusia terhadap nilai-nilai agama. “Pada akhirnya manusia tetap membutuhkan pertolongan Allah SWT. Karena itu, kami berharap ada penguatan pengetahuan agama, baik di lingkungan perusahaan maupun masyarakat sekitar,” ujarnya.
Audiensi ditutup dengan komitmen bersama untuk memperkuat kolaborasi di bidang dakwah, pendidikan umat, ekonomi syariah, serta pembinaan masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.