Rupiah Tembus Rp 17.724 per Dolar AS, Level Terlemah Sepanjang Sejarah Terjadi Pagi Ini

Penulis: Syahril Hamid  •  Selasa, 19 Mei 2026 | 11:29:01 WIB
Rupiah mencapai level terlemah sepanjang sejarah di Rp 17.724 per dolar AS pagi ini.

SUMATERA SELATAN — Sepanjang tahun berjalan, rupiah sudah terdepresiasi sebesar 6,25% terhadap greenback. Tekanan terhadap mata uang Garuda tidak berdiri sendiri—mayoritas mata uang Asia juga kompak melemah. Won Korea Selatan menjadi yang terburuk dengan koreksi 0,74%, disusul baht Thailand yang turun 0,18%.

Dua Sentimen yang Mendorong Rupiah ke Titik Nadir

Analis Doo Financial Lukman Leong mengatakan ada dua faktor utama yang mempengaruhi pergerakan rupiah hari ini. Pertama, meredanya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan menunda rencana serangan terhadap Iran. Sentimen ini seharusnya positif bagi mata uang emerging market, namun penguatan rupiah masih tertahan.

"Pelaku pasar tetap mencermati kondisi domestik yang dinilai masih lemah," ujar Lukman dalam risetnya, Selasa (19/5). Faktor kedua yang lebih dominan adalah antisipasi terhadap keputusan suku bunga Bank Indonesia.

Ekspektasi Kenaikan BI Rate Membuat Pasar Wait and See

Investor saat ini menanti hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang diperkirakan akan menaikkan suku bunga acuan. Langkah ini dinilai perlu untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih deras.

Menurut Lukman, ekspektasi kenaikan suku bunga justru membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil posisi. Alih-alih langsung masuk, investor lebih memilih menunggu kepastian kebijakan moneter. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp 17.600 hingga Rp 17.700 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

Apa yang Terjadi Selanjutnya?

Semua mata kini tertuju pada hasil RDG Bank Indonesia yang dijadwalkan selesai siang ini. Jika BI benar-benar menaikkan suku bunga, rupiah berpotensi rebound dalam jangka pendek. Namun, jika keputusan di luar ekspektasi pasar—misalnya menahan suku bunga—tekanan terhadap rupiah bisa semakin besar.

Di sisi lain, pergerakan dolar AS secara global juga masih menjadi variabel kunci. Indeks dolar AS yang masih perkasa membuat hampir semua mata uang Asia kesulitan untuk menguat signifikan. Investor disarankan mencermati perkembangan RDG BI dan data ekonomi AS pekan ini.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Syahril Hamid
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top