Investor modal ventura global mulai melirik 21 startup asal Eropa yang diprediksi menjadi raksasa teknologi baru di luar nama besar seperti Mistral AI. Inovasi ini mencakup sektor pertahanan hingga manajemen energi hijau yang berpotensi memengaruhi lanskap teknologi global, termasuk adopsi kecerdasan buatan di Indonesia.
Dominasi Silicon Valley dalam perlombaan kecerdasan buatan (AI) mulai mendapatkan tantangan serius dari tanah Eropa. Setelah kesuksesan Mistral AI dan Lovable, para pemodal ventura (VC) kini memantau gelombang baru perusahaan rintisan yang fokus pada teknologi mendalam (deep tech). Daftar terbaru ini melibatkan rekomendasi dari firma besar seperti Index Ventures hingga 20VC.
Eropa tidak lagi hanya mengandalkan satu atau dua nama besar untuk bersaing. Para investor melihat potensi besar pada startup yang mampu menyelesaikan masalah spesifik menggunakan AI, mulai dari keamanan siber hingga infrastruktur satelit. Fokus beralih pada perusahaan yang memiliki fundamental teknologi kuat dibandingkan sekadar mengikuti tren pasar.
Salah satu nama paling menonjol adalah Fundamental yang baru saja keluar dari fase senyap (stealth mode) pada Februari 2024. Startup ini mengembangkan model AI bernama Nexus yang dirancang khusus untuk analisis data besar (big data) di sektor korporasi. Meski masih berusia muda, Fundamental sudah mengantongi valuasi sebesar $1,4 miliar atau sekitar Rp 22,4 triliun.
Selain Fundamental, BottleCap AI yang berbasis di Praha menjadi perhatian karena pendekatan uniknya. Perusahaan ini membangun model bahasa besar (LLM) yang fokus pada efisiensi, sekaligus merilis aplikasi langsung seperti Pulse untuk kurasi berita. Tim pendirinya merupakan gabungan antara mantan peneliti AI dan pengusaha yang sebelumnya menjual perusahaan ke Meta.
Perubahan perilaku pencarian pengguna akibat AI memicu lahirnya kebutuhan baru bagi pemilik merek. Botify hadir sebagai solusi bagi perusahaan untuk meningkatkan visibilitas mereka dalam pencarian berbasis AI. Strategi ini dikenal sebagai Generative Engine Optimization (GEO), yang diprediksi akan menggantikan dominasi SEO tradisional di masa depan.
Langkah ini sangat relevan bagi industri digital marketing di Indonesia yang mulai beradaptasi dengan Search Generative Experience (SGE) milik Google. Botify sudah memiliki klien besar seperti The New York Times dan Macy’s, membuktikan bahwa teknologi mereka siap digunakan di skala global.
Sektor teknologi pertahanan (defense tech) kini menjadi tren utama di Eropa, dipicu oleh kebutuhan modernisasi militer. Alta Ares mengembangkan sistem kontra-drone berbasis AI yang mampu mendeteksi dan melumpuhkan ancaman dengan biaya lebih efisien. Solusi ini menjawab kebutuhan interceptor murah di tengah meningkatnya penggunaan drone dalam konflik modern.
Di sisi infrastruktur, Cailabs memanfaatkan sains cahaya atau fotonika untuk komunikasi laser dengan satelit. Berikut adalah beberapa poin kunci teknologi Cailabs:
Flower, startup asal Swedia, mencoba memecahkan masalah klasik pada energi angin dan surya, yaitu sifatnya yang tidak stabil. Dengan memanfaatkan AI dan sistem penyimpanan energi baterai, Flower membuat penggunaan energi terbarukan menjadi lebih terprediksi. Perusahaan ini baru saja mengumpulkan pendanaan obligasi lebih dari $60 juta (sekitar Rp 960 miliar) untuk mempercepat skalabilitas layanan mereka.
Kehadiran startup deep tech Eropa ini memberikan perspektif baru bagi pengembang dan pelaku bisnis di Indonesia. Teknologi seperti yang ditawarkan Botify dapat langsung diadopsi oleh brand lokal untuk tetap kompetitif di era AI. Sementara itu, inovasi di bidang energi terbarukan seperti Flower bisa menjadi referensi bagi pengembangan smart grid di tanah air.
Para investor menekankan bahwa kekuatan startup Eropa saat ini terletak pada talenta teknis yang mendalam dan kemampuan riset yang kuat. Meskipun belum semuanya memiliki pendapatan tahunan mencapai sembilan digit, pertumbuhan valuasi dan adopsi produk mereka menunjukkan arah baru dalam peta jalan teknologi dunia tahun ini.