BRI Bantu Petani Alpukat Sumberejo Perluas Pasar, Omzet Naik 30 Persen

Penulis: Syahril Hamid  •  Minggu, 08 November 2026 | 12:10:31 WIB
Petani alpukat di Sumberejo, Tanggamus, Lampung, merawat kebun sebagai komoditas unggulan daerah.

SUMATERA SELATAN — Kelompok tani alpukat di Kecamatan Sumberejo, Kabupaten Tanggamus, Lampung, mencatat kenaikan omzet dan penjualan sekitar 30 persen setelah terhubung dengan program Klasterku Hidupku BRI. Program itu membuka akses pasar yang lebih luas bagi hasil panen petani, sekaligus menjaga perputaran modal usaha di tingkat kelompok.

Prayitno, penggerak kelompok tani alpukat di Sumberejo, membangun jaringan pemasaran bersama petani di sekitarnya. Langkah itu berangkat dari pengalaman pribadinya sebagai petani yang memahami bahwa keberhasilan budi daya tidak berhenti di kebun, tetapi juga ditentukan kemampuan menjual hasil panen.

Alpukat memang menjadi komoditas unggulan di Sumberejo. Daging buahnya yang lembut dan kaya rasa membuat alpukat dari wilayah itu diminati konsumen. Potensi itu semestinya bisa mendongkrak pendapatan petani, asalkan hasil panen terserap pasar dengan harga yang layak.

Masalah Serapan Saat Panen Raya

Persoalan muncul ketika musim panen raya tiba. Pasokan alpukat dari kebun warga naik hampir bersamaan, sementara jaringan pembeli masih terbatas. Tanpa pembeli yang cukup luas, hasil panen berisiko tidak terserap dan kehilangan nilai jual.

Prayitno lantas menghimpun hasil panen dari sejumlah petani untuk dipasarkan ke pasar induk. Upaya itu berkembang bertahap menjadi jaringan pemasaran yang melibatkan lebih banyak warga di lingkungannya.

“Saya berangkat dari petani, jadi paham betul tantangannya. Petani sudah menanam, merawat, lalu ketika panen yang dipikirkan berikutnya ya bagaimana hasil ini bisa terjual dengan baik. Karena itu kami coba berkembang bersama, merangkul petani di sekitar supaya hasil panennya bisa sama-sama kita pasarkan,” cerita Prayitno, dikutip Sabtu (8/11).

Selain memasarkan, Prayitno sesekali membantu modal petani mitranya. Baginya, petani yang bisa terus berjalan akan menghasilkan panen yang juga bisa dipasarkan bersama. Pola kemitraan itu membuat usaha alpukat di Sumberejo saling menopang: petani fokus merawat kebun dan menjaga kualitas buah, sementara jaringan pemasaran terus diperluas.

Akses Pasar lewat Klasterku Hidupku

Perluasan pasar menjadi fokus berikutnya seiring bertambahnya petani yang terlibat. Peluang itu terbuka setelah kelompok tani yang dikelola Prayitno terhubung dengan program Klasterku Hidupku dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Kerja sama bermula dari survei yang dilakukan BRI ke kelompok tani, lalu berlanjut ke penjalinan kemitraan.

Lewat program itu, kelompok tani memperoleh kesempatan memperkuat pengembangan usaha dan memperluas jaringan pemasaran. Akses pasar menjadi krusial karena menentukan seberapa banyak hasil kebun yang bisa dijual ke pembeli baru.

Corporate Secretary BRI Dhanny mengatakan, program Klasterku Hidupku mendorong kelompok usaha berbasis potensi lokal agar lebih kuat dari sisi kapasitas usaha, jaringan, dan akses pasar.

“Potensi ekonomi daerah akan semakin kuat ketika pelaku usaha di dalamnya dapat tumbuh bersama. Dengan demikian, pengembangan klaster tidak hanya diarahkan pada peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga bagaimana membuka akses pasar, memperkuat jaringan usaha, dan menciptakan lebih banyak peluang agar manfaat pertumbuhan dapat dirasakan masyarakat di sekitarnya,” ujar Dhanny.

Omzet Naik, Serapan Panen Bertambah

Dampak perluasan jaringan mulai terlihat pada kinerja usaha. Prayitno memperkirakan omzet dan penjualan kelompok tumbuh sekitar 30 persen. Angka itu bukan sekadar catatan bisnis, melainkan modal bagi kelompok untuk menampung lebih banyak hasil panen petani.

Usaha yang semula dijalankan dari lingkungan sendiri kini memberi kesempatan ekonomi bagi lebih banyak warga Sumberejo. Petani mendapat pembeli yang lebih luas, sementara kelompok punya putaran modal yang lebih terjaga untuk mempersiapkan musim tanam berikutnya.

Hingga September 2026, BRI telah mengembangkan lebih dari 45 ribu klaster usaha di berbagai daerah melalui Klasterku Hidupku. Program ini menjadi bagian dari upaya perseroan membangun ekosistem usaha produktif berbasis komunitas dengan mengoptimalkan potensi ekonomi wilayah.

Bagi petani alpukat Sumberejo, nilai program ini terletak pada hal yang paling mendasar: kepastian bahwa hasil panen mereka punya tempat untuk dijual. Ketika serapan panen membaik, pendapatan petani ikut terjaga, dan komoditas unggulan daerah tidak berhenti sebagai potensi di atas kertas.

Reporter: Syahril Hamid
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top