SUMATERA SELATAN — Kekeringan parah di Indonesia memaksa sejumlah kilang nikel mengurangi produksi hingga beroperasi di 30 persen kapasitas, memicu risiko pasokan bahan baku baterai kendaraan listrik global. Indonesia adalah pemasok nikel terbesar dunia, dan sekitar tiga perempat industri penyulingannya dibiayai investor Tiongkok.
Paragraf pembuka: Tekanan muncul karena proses pengolahan nikel membutuhkan air dalam jumlah besar. Metode yang dipakai adalah pencucian asam bertekanan tinggi (high pressure acid leaching/HPAL), yang mengandalkan pasokan air stabil untuk memisahkan nikel dari bijih. Ketika curah hujan turun tajam, operasi kilang langsung ikut melambat.
Salah satu operasi utama di Sulawesi Tengah yang dijalankan Nickel Industries asal Sydney mengumumkan pengurangan besar-besaran. Fasilitas pencucian asam milik perusahaan kini beroperasi pada kapasitas 30 persen, turun dari sebelumnya 50 persen.
CRU Group memperkirakan pengurangan serupa terjadi di seluruh industri dan berlanjut hingga bulan ini. "Masuk akal untuk memperkirakan bahwa semua operasi (pelindian asam), yang menghadapi kekurangan air serupa dan sering berbagi infrastruktur satu sama lain, mempertimbangkan pengurangan produksi sementara dengan skala yang sama," kata CRU Group dalam laporan bulan Oktober, dikutip dari SMCP.
Dampaknya terlihat pada proyeksi produksi. CRU Group memperkirakan produksi nikel untuk endapan hidroksida campuran (mixed hydroxide precipitate/MHP) turun menjadi sekitar 370.000 ton pada paruh kedua tahun ini, dari perkiraan sebelumnya 400.000 ton.
Pola cuaca El Nino yang kuat selama musim panas memperburuk kekeringan di Indonesia. Negara ini menyumbang lebih dari setengah produksi nikel global, menurut S&P Global, sehingga gangguan sekecil apa pun di sini terasa di rantai pasokan dunia.
Keterkaitan dengan Tiongkok juga erat. Sekitar tiga perempat industri penyulingan nikel Indonesia memiliki investasi Tiongkok, menurut estimasi Center for Advanced Defense Studies yang berbasis di AS. Tiongkok sendiri menyumbang sekitar 80 persen produksi sel baterai kendaraan listrik dunia, menurut Badan Energi Internasional.
Siwage Dharma Negara, koordinator Program Studi Indonesia di ISEAS Yusof Ishak Institute Singapura, menilai investor Tiongkok memiliki eksposur besar terhadap industri HPAL nikel di Indonesia. Produsen baterai kendaraan listrik Tiongkok pun ikut terkena dampak sebagai bagian dari rantai pasokan.
"Kekeringan telah menyebabkan biaya produksi tambahan dan mengurangi profitabilitas di kalangan investor nikel Tiongkok di Indonesia," kata Siwage.
Tekanan bukan hanya dari cuaca. Laporan Agustus dari S. Rajaratnam School of International Studies di Nanyang Technological University menyebut investor Tiongkok di kilang HPAL sudah menghadapi kendala pasokan dan risiko penutupan lebih besar akibat pengetatan regulasi lingkungan dan keselamatan.
Meski begitu, Siwage memperkirakan investor Tiongkok kemungkinan tetap bertahan di Indonesia. Alasannya, Indonesia terlalu penting bagi industri baterai Tiongkok. Yang berubah adalah tempo ekspansi: proyek baru kemungkinan ditunda, sementara proyek yang sudah berjalan dipacu efisiensinya.
Bagi Indonesia, gangguan produksi ini memperlihatkan sisi rentan dari posisi sebagai pemasok nikel terbesar dunia. Ketergantungan pada air dalam proses pengolahan membuat kilang sangat terpapar risiko cuaca ekstrem, tepat ketika permintaan baterai kendaraan listrik terus tumbuh.