MUSI BANYUASIN — Dua pecatur yang mewakili Sumatera Selatan itu menempati posisi enam besar nasional di kategori masing-masing. Kejurnas Percasi 2026 berlangsung di Banten pada 24–28 Oktober 2026, dan pembagian hadiah dilakukan langsung oleh Wakil Gubernur Banten Ahmad Dimyati.
Bagi Musi Banyuasin, hasil itu memperpanjang catatan atlet catur daerah di panggung nasional. Persaingan di Kejurnas tahun ini diikuti wakil dari berbagai provinsi, sehingga posisi enam besar bukan capaian yang datang tanpa perhitungan matang.
Dua atlet yang membawa nama Sumatera Selatan itu berasal dari pembinaan Percasi Kabupaten Musi Banyuasin. Keduanya bertanding di kategori masing-masing dan pulang dengan posisi enam besar nasional.
Ketua Percasi Muba H Ahmadi Dausat SE menilai hasil tersebut lahir dari perjuangan atlet menghadapi persaingan tingkat nasional yang tidak ringan. Menurutnya, capaian ini menjadi kebanggaan sekaligus modal untuk pembinaan berikutnya.
Ahmadi secara khusus menyebut sejumlah perusahaan yang menopang kegiatan dan pembinaan catur di Muba, yakni Petro, BCM, dan LCM. Dukungan dunia usaha dinilainya menyentuh hal yang paling menentukan: kualitas latihan dan kesempatan atlet turun di kompetisi.
"Kami mengapresiasi perusahaan yang telah membantu dan mendukung atlet catur Muba. Harapan kami, ke depan dukungan ini dapat lebih ditingkatkan dan menjadi bagian dari program perusahaan, khususnya dalam pembibitan serta pembinaan atlet catur Kabupaten Musi Banyuasin," ungkap Ahmadi.
PT Basin Coal Mining (BCM) menyampaikan rasa syukur atas prestasi kontingen Percasi Muba. Manajemen perusahaan berharap capaian itu bisa menjadi inspirasi bagi pemuda di Musi Banyuasin dan Sumatera Selatan.
Ahmadi berharap semakin banyak atlet muda berbakat dari Muba yang dibina secara berkelanjutan. Targetnya bukan hanya bertahan di enam besar, tetapi menembus tiga besar nasional dan bersaing di tingkat internasional.
Untuk itu, sinergi antara Percasi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat dinilainya sebagai syarat agar pembinaan catur di Muba berjalan lebih optimal. Tanpa kolaborasi itu, prestasi atlet berpotensi berhenti di satu generasi.