BMKG Prediksi Hujan Guyur Sumsel 24-26 Oktober 2026 Usai Kemarau 4 Bulan, Warga Diminta Waspadai Kualitas Udara

Penulis: Syahril Hamid  •  Minggu, 25 Oktober 2026 | 07:02:31 WIB
BMKG memprediksi hujan mulai mengguyur sejumlah wilayah Sumsel pada 24-26 Oktober 2026 setelah kemarau panjang.

PALEMBANG — Prediksi hujan pertama setelah kemarau panjang itu disampaikan BMKG di tengah sejumlah wilayah Sumsel yang tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 100 hari. Wandayantolis menyebut hujan yang datang setelah periode kering bukan ancaman yang perlu ditakuti, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan mengingat kondisi lingkungan setempat belum tentu bersih.

Selama kemarau, debu, partikel polutan, dan sisa pencemaran dari berbagai sumber, termasuk asap karhutla, dapat bertahan di atmosfer. Ketika hujan turun, sebagian partikel itu terbawa air dan mengendap di permukaan.

Mengapa Hujan Pertama Setelah Kemarau Perlu Dicermati

Wandayantolis menjelaskan air hujan secara alami bisa bersifat sedikit asam akibat interaksi dengan karbon dioksida di atmosfer. Tingkat keasaman dan kandungan pencemar dalam air hujan berbeda-beda, bergantung pada kondisi atmosfer dan kualitas udara di masing-masing wilayah.

"Hujan pertama setelah kemarau panjang tidak perlu ditakuti. Namun, masyarakat tetap perlu memperhatikan kondisi lingkungan, khususnya jika wilayahnya terdampak asap atau pencemaran udara," kata Wandayantolis, Sabtu (24/10/2026).

Karena itu, warga tidak diminta menghindari hujan sepenuhnya. Yang perlu dikurangi adalah kontak langsung secara berlebihan bila hujan turun di kawasan yang masih terdampak asap atau pencemaran. Jika terkena air hujan, kulit dapat dibilas dengan air bersih bila diperlukan.

Air Hujan Belum Aman untuk Minum Tanpa Pengolahan

BMKG juga mengingatkan warga tidak langsung menggunakan air hujan untuk minum atau memasak tanpa pengolahan yang sesuai. Langkah itu penting untuk menjaga kebersihan dan memastikan air yang digunakan aman bagi kebutuhan sehari-hari.

"Masyarakat juga diimbau tidak langsung menggunakan air hujan untuk minum atau memasak tanpa pengolahan yang sesuai. Langkah tersebut penting untuk menjaga kebersihan dan memastikan air yang digunakan aman bagi kebutuhan sehari-hari," ujarnya.

Selain soal kualitas air, warga diminta tetap memantau informasi cuaca dan kualitas udara dari sumber resmi. Kewaspadaan perlu disesuaikan dengan kondisi lingkungan masing-masing, terutama bagi mereka yang tinggal di wilayah dengan kualitas udara masih buruk.

Wilayah dengan HTH Lebih dari 100 Hari Jadi Perhatian

Sejumlah wilayah di Sumsel sebelumnya tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan lebih dari 100 hari. Kondisi itu membuat permukaan tanah lebih kering dan debu lebih mudah terangkat, sehingga hujan pertama berpotensi membawa serta partikel yang menumpuk selama kemarau.

BMKG memprediksi hujan mulai terjadi di sejumlah wilayah Sumsel pada 24-26 Oktober 2026. Warga diharapkan menyambut perubahan cuaca itu dengan tenang sambil tetap menjaga kesehatan.

"Masyarakat diharapkan menyambut perubahan cuaca tersebut dengan tetap tenang dan menjaga kesehatan. Hujan dapat membantu mengurangi debu di permukaan, tetapi kondisi kualitas udara dan lingkungan tetap perlu dipantau sesuai perkembangan di lapangan," pungkas Wandayantolis.

Reporter: Syahril Hamid
Sumber: detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top