PALEMBANG — Pemantauan aplikasi IQAir sekitar pukul 05.00 WIB menunjukkan konsentrasi polutan di sejumlah titik Kota Palembang berada pada level mengkhawatirkan. Grafik pemantauan sejak tengah malam memperlihatkan peningkatan partikulat yang bertahan di zona tidak sehat dan sangat tidak sehat.
Selain dua kawasan berstatus berbahaya, Kecamatan Sukarami tercatat pada angka 204 atau kategori sangat tidak sehat. Kawasan Demang berada di angka 290, juga dalam kategori sangat tidak sehat.
Kawasan GP Plm mencatat angka tertinggi, yakni 425, disusul Musi 2 dengan 333. Keduanya masuk kategori berbahaya, level paling berat dalam skala kualitas udara.
Angka-angka itu membuat Palembang menempati peringkat kedua sebagai kota dengan kualitas udara terburuk dalam daftar IQAir pada saat pemantauan. Posisi ini menandai pemburukan lanjutan setelah beberapa hari sebelumnya kondisi udara kota juga berada di kategori tidak sehat.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, mengatakan kondisi udara Palembang masih perlu diwaspadai. Menurut dia, pola harian kualitas udara relatif sama dengan hari-hari sebelumnya.
"Berdasarkan kategori kualitas udara, kondisi tersebut sangat tidak sehat," ujar Wandayantolis.
Ia menambahkan bahwa kondisi itu tidak berarti seluruh wilayah Palembang berada pada kategori berbahaya.
"Masih sama grafik secara hariannya dengan hari-hari sebelumnya, kualitas udara masih dalam kategori tidak sehat dan sangat tidak sehat. Namun, kini tidak lagi berstatus berbahaya," katanya.
Tingginya konsentrasi partikel halus di udara berpotensi memberi dampak kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. Anak-anak, lansia, dan warga dengan gangguan pernapasan disebut paling berisiko mengalami keluhan.
Wandayantolis mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara berada pada kategori tidak sehat.
"Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya ketika kondisi udara masih berada pada kategori tidak sehat. Warga yang harus beraktivitas di luar ruangan juga disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikulat," terangnya.
Selain membatasi aktivitas luar ruangan, warga diminta tidak melakukan kegiatan yang berpotensi memperburuk kualitas udara. Pembakaran sampah dan pembakaran terbuka termasuk yang harus dihindari.
Kondisi udara Palembang masih perlu dipantau karena konsentrasi polutan bisa berubah dalam waktu singkat. Perubahan itu terutama terjadi pada dini hari hingga pagi, ketika kondisi atmosfer tertentu membuat polutan bertahan lebih dekat ke permukaan.