PALEMPANG — Kabut asap masih menyelimuti sejumlah kawasan Kota Palembang meski hujan sempat mengguyur pada Minggu (20/9/2026) siang. Warga yang beraktivitas di luar rumah merasakan langsung dampaknya.
"Pagi ini parah sekali. Biasanya asap sudah mereda, tetapi sekarang masih banyak sekali dan makin pekat," kata Alwi, seorang warga Palembang.
Pemantauan kualitas udara pukul 05.00 WIB mencatat tiga wilayah dengan AQI tertinggi. Demang berada di puncak dengan 228, disusul GP Plm 225 dan Sukarami 217.
Angka-angka itu menempatkan Palembang di peringkat kedua dalam daftar kota dengan kualitas udara buruk pada pemantauan yang menjadi acuan tersebut.
Konsentrasi partikulat halus memang menunjukkan penurunan dibandingkan titik tertinggi pada dini hari. Meski begitu, penurunan itu belum cukup membawa kualitas udara ke kategori aman.
Kota Palembang belum memasuki periode musim hujan. Berdasarkan informasi BMKG, awal musim hujan di wilayah Sumatera Selatan diperkirakan baru berlangsung pada November 2026.
Karena itu, hujan yang turun di sejumlah wilayah Palembang pada Minggu siang belum bisa dianggap sebagai penanda musim hujan dimulai secara menyeluruh.
Kelompok rentan diminta meningkatkan kewaspadaan. Anak-anak, lansia, serta warga dengan aktivitas tinggi di luar ruangan masuk kategori yang paling berisiko.
"Masyarakat tetap diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi udara, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan. Sebaiknya tetap menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan," ujarnya.
Warga disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara kembali memburuk.
Masyarakat diharapkan terus memantau informasi kualitas udara dan prakiraan cuaca dari sumber resmi. Langkah itu penting terutama sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan.
Penggunaan masker tetap dianjurkan bagi warga yang harus beraktivitas di luar rumah selama kondisi udara berada pada kategori merah atau sangat tidak sehat.