Karhutla Sumatera Selatan Perburuk Kualitas Udara, BMKG Pantau PM 2,5 di Palembang

Penulis: Amril Fauzan  •  Sabtu, 19 September 2026 | 14:46:31 WIB

PALEMBANG — Kepala Stasiun BMKG Klimatologi Kelas I Sumatera Selatan, Wandayantolis, menyatakan pihaknya memantau kualitas atmosfer salah satunya lewat konsentrasi PM 2,5. Partikel berukuran sangat kecil itu menjadi gambaran keberadaan aerosol di udara.

"Sejauh ini pantauan kami di BMKG Sumatera Selatan itu dari PM 2,5. Ini merupakan gambaran aerosol atau partikel padat yang umumnya terkait dengan pembakaran," ujar Wandayantolis saat berbincang di dialog Palembang Menyapa RRI, Rabu 16 September 2026.

Fluktuasi konsentrasi PM 2,5 menunjukkan hubungan erat dengan kejadian karhutla dan sebaran asap. Luas dan arah penyebaran asap dipengaruhi kondisi atmosfer, terutama arah angin dan stabilitas atmosfer.

Mengapa Asap Menumpuk di Pagi Hari

Stabilitas atmosfer menentukan kemampuan udara bergerak secara vertikal. Ketika kondisi atmosfer stabil, polutan cenderung tertahan dan menumpuk di dekat permukaan sehingga konsentrasi PM 2,5 dapat meningkat.

"Kita sering mengalami pada pagi hari terlihat asap atau jarak pandang kita sangat berkurang karena adanya lapisan inversi dan kecepatan angin yang rendah, sehingga polutan menumpuk di permukaan," jelasnya.

Kondisi itu bisa diperburuk keberadaan kabut atau uap air. Kombinasi asap, polutan, dan kabut menurunkan jarak pandang serta berpotensi berdampak pada kesehatan masyarakat.

Asap dari Wilayah Timur Baru Sampai Palembang Berjam-jam Kemudian

Peningkatan konsentrasi PM 2,5 umumnya mulai terlihat pada malam hari. Kondisi tersebut berkaitan dengan masuknya asap dari wilayah yang mengalami kebakaran, tergantung arah angin.

"Kalau yang masuk ke Palembang karena anginnya dari timuran, berarti sumber asapnya dari wilayah timur atau tenggara Palembang," katanya.

Kondisi malam hari juga memengaruhi perkembangan karhutla. Aktivitas pemadaman seperti water bombing cenderung lebih terbatas pada malam hari, begitu pula pergerakan pasukan darat yang tidak seintensif siang hari.

"Pada malam hari laju perluasan kebakaran bisa menjadi lebih besar. Ini yang kemudian beberapa jam berikutnya asapnya sampai di wilayah Palembang," ujarnya.

Asap yang terbawa angin membutuhkan waktu untuk mencapai Palembang. Karena itu, peningkatan konsentrasi PM 2,5 dapat mulai terpantau sejak dini hari, yang secara visual ditandai berkurangnya jarak pandang dan munculnya asap.

Faktor Meteorologi Ikut Menentukan Sebaran Asap

Memasuki pagi hari, kondisi angin yang relatif lemah serta atmosfer yang stabil membuat asap semakin terperangkap di dekat permukaan. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan fluktuasi kualitas udara di Sumatera Selatan.

Dampak karhutla terhadap kualitas atmosfer tidak hanya ditentukan besarnya kebakaran. Kondisi meteorologis juga turut memengaruhi pergerakan dan akumulasi asap di udara.

Reporter: Amril Fauzan
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top