7 Wilayah Sumsel Berstatus Awas Kekeringan, Warga Sekayu Beli Air PDAM Rp300 Ribu per Tangki

Penulis: Rizal Fikri  •  Rabu, 16 September 2026 | 22:52:01 WIB
Warga di Sekayu, Musi Banyuasin, membeli air PDAM untuk memenuhi kebutuhan air bersih akibat sumur yang mengering.

SEKAYU — Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Sumsel, Nandang Pangaribowo, menyatakan curah hujan pada periode ini diprediksi berada di bawah normal. Minimnya tutupan awan serta potensi awan penghasil hujan terpantau sangat rendah. Kondisi itu membuat puncak kemarau tahun ini berlangsung lebih lama dari biasanya.

Selain tujuh kabupaten berstatus awas, sejumlah daerah lain berada di level lebih rendah. Kabupaten Musi Rawas, Empat Lawang, Lahat, dan Kota Lubuk Linggau masih berstatus waspada kekeringan meteorologis.

El Nino Perparah Kemarau di Sumsel

Nandang menyebut fenomena El Nino menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumsel. Situasi itu membuat pembentukan awan penghasil hujan semakin sulit sehingga peluang hujan di banyak wilayah menurun.

"Fenomena El Nino turut menjadi salah satu faktor yang meningkatkan potensi kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumsel. Situasi tersebut membuat pembentukan awan penghasil hujan menjadi lebih sulit sehingga peluang hujan di sejumlah wilayah semakin rendah," jelasnya, Rabu (16/9/2026).

Dampaknya tidak berhenti pada berkurangnya ketersediaan air. Lahan yang mengering juga memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan selama puncak musim kemarau.

Sumur Warga Sekayu Mengering Lebih dari Sepekan

Di Sekayu, Kabupaten Musi Banyuasin, sumur yang sebelumnya masih bisa disedot meski sulit kini benar-benar kering. Iwan, warga setempat, mengaku lebih dari sepekan tidak lagi mendapatkan air dari sumur rumahnya.

"Keringnya air sumur membuat aktivitas sehari-hari ikut terganggu, bahkan untuk mandi dan keperluan lainnya tidak lagi dapat dipenuhi dari sumur di rumah. Terpaksa menumpang ke rumah teman yang kebetulan air ledeng masih ada," ujarnya.

Warga lain, Iriansyah, memilih membeli air PDAM untuk mengisi sumur penginapannya di Jalan Lintas Randik. Ia merogoh kocek Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per tangki untuk kapasitas 3.000 sampai 5.000 liter.

"Sudah hampir seminggu ini beli air PDAM untuk mengisi sumur dengan kapasitas 3.000 sampai 5.000 liter. Air itu ada, tapi tidak maksimal. Jadi, harus mengeluarkan uang lebih membeli air sebesar Rp200-300 ribu per tangki. Kalau tidak beli, susah juga kebutuhan airnya," ungkapnya.

PDAM Tirta Randik Jamin Suplai Meski Debit Sungai Musi Turun

Direktur Teknik PDAM Tirta Randik, Ali Khomani, memastikan suplai air masih normal meski debit Sungai Musi menurun. Pipa milik PDAM berada jauh di bawah titik terendah permukaan air sungai.

"Kalau membutuhkan air, bisa datang ke unit pelayanan terdekat atau menghubungi call center. Sementara untuk suplai air masih dalam normal walaupun debit air Sungai Musi menurun, karena pipa kita jauh di bawah titik terendah air," ungkapnya.

BMKG meminta masyarakat dan pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan, terutama dalam mengantisipasi kebutuhan air serta potensi kebakaran di wilayah yang lahannya mulai mengering.

Reporter: Rizal Fikri
Sumber: sumsel.idntimes.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top