SUMATERA SELATAN — Jakarta — Lewat Survei Seismik Offshore 3D Kandawulo, Elnusa memetakan struktur geologi dan potensi sumber daya migas di perairan Selat Makassar. Perusahaan mengoperasikan teknologi seismik laut dalam dengan metode marine streamer untuk mendapat gambaran bawah permukaan yang lebih rinci. Sepanjang pengerjaan, Elnusa mencatat 99.120 jam kerja aman tanpa kecelakaan.
Data mentah itu belum selesai di situ. Elnusa lantas mengolahnya memakai metode Pre Stack Time Migration (PSTM) selama kurang lebih enam bulan. Tim geosains membedah struktur bawah permukaan dan karakter batuan, sekaligus menelisik indikasi keberadaan hidrokarbon. Hasilnya dipakai pemilik wilayah kerja sebagai acuan menentukan area eksplorasi hingga titik pengeboran.
Jejak seismik Elnusa berlanjut ke daratan Sumatera Selatan. Pada 3 September 2026, perseroan mengantongi dua proyek Survei Seismik 3D dengan total area sekitar 150 kilometer persegi di Kabupaten Musi Banyuasin. Proyek ini datang dari pelanggan di luar Grup Pertamina dan ditargetkan rampung awal 2027, melanjutkan dua pekerjaan sebelumnya seluas 365 kilometer persegi di area berdekatan.
Untuk menggarapnya, Elnusa mengandalkan STRYDE Nimble Seismic System yang mulai diperkuat sejak awal 2026. Perusahaan sebelumnya berinvestasi pada 25.000 STRYDE Range+ nodes, didukung STRYDE Nimble System dan STRYDE Mini System. Perangkat nodal itu memungkinkan akuisisi data berdensitas tinggi, mempercepat siklus survei, dan menekan biaya operasi. Bentuknya ringkas dan fleksibel, sehingga memudahkan pengerjaan di medan berakses terbatas.
Medan di Musi Banyuasin memang menantang. Area survei melintasi kawasan hutan, aliran sungai, area pertambangan, hingga permukiman warga. Kondisi itu menuntut perencanaan survei yang adaptif, kesiapan personel dan teknologi, serta disiplin operasi.
Corporate Secretary Elnusa Rustam Aji menyebut proyek lanjutan dari pelanggan non-Pertamina sebagai bukti kapabilitas perusahaan bersaing di pasar eksternal.
"Ke depan, teknologi tidak berhenti sebagai peningkatan kapabilitas, tetapi harus mampu meningkatkan efisiensi, menjawab kebutuhan pelanggan, dan memperluas pasar," kata Rustam.
Sepanjang semester I 2026, Elnusa merampungkan akuisisi data seismik 3D seluas 1.757 km² dan survei seismik 2D sepanjang 193 km. Di lini jasa hulu lain, perseroan menyelesaikan wireline logging pada 662 sumur dan well testing di lebih dari 3.800 sumur, serta mengoperasikan hydraulic workover unit pada 112 sumur.
Sekitar 22% pendapatan perseroan pada periode itu berasal dari pelanggan pihak ketiga. Elnusa juga mengantongi kontrak baru senilai Rp 11,6 triliun selama enam bulan pertama 2026. Per akhir Juni, carry forward contract yang masih dipegang mencapai Rp 18,8 triliun untuk menopang aktivitas periode berikutnya.
Rinciannya, Rp 9,5 triliun dari jasa hulu migas terintegrasi, Rp 2,3 triliun dari jasa penunjang migas, dan Rp 7 triliun dari penjualan barang serta jasa distribusi hingga logistik energi.
Kemampuan menembus pasar non-Pertamina di dalam negeri bukan hal baru bagi Elnusa. Sejak 1998 di Myanmar, jejak seismiknya melebar ke lebih dari delapan negara — Libya, India, Brunei, sampai proyek terbaru di Thailand pada 2025.
Direktur Operasi Elnusa Andri Haribowo menyatakan perseroan terus menjajaki peluang serupa di pasar internasional. Pengalaman lintas negara itu menjadi modal Elnusa mengubah kemampuan teknologi dan operasional menjadi sumber bisnis baru, di antaranya Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR), layanan geospasial Pertapixel, dan Road Traffic Control (RTC).
Dengan portofolio kontrak yang masih tebal dan perluasan pasar di luar grup, Elnusa memposisikan diri bukan sekadar penyedia jasa penunjang migas, melainkan mitra teknologi eksplorasi yang bisa dipakai pemilik wilayah kerja mana pun.