Darurat Sampah Palembang Capai 1.260 Ton per Hari, 700 Orang Turun Bersihkan Bantaran Musi di Bawah Ampera

Penulis: Rizal Fikri  •  Sabtu, 12 September 2026 | 12:01:01 WIB
Wali Kota Palembang Ratu Dewa memungut sampah saat aksi bersih bantaran Sungai Musi di bawah Jembatan Ampera.

PALEMBANG — Ratu Dewa menyusuri bantaran Sungai Musi bersama peserta aksi dan memungut sampah yang mencemari aliran sungai. Ia menegaskan Sungai Musi adalah harga mati bagi Palembang, bukan sekadar soal ekologi, melainkan identitas, sejarah, dan kehidupan warga.

"Atas nama Pemerintah Kota Palembang, saya menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas terselenggaranya Gerakan Menjaga Sungai Palembang dan Clean Up Sungai Musi," ujar Ratu Dewa.

Angka Timbulan Sampah: 1.260 Ton per Hari

Data Dinas Lingkungan Hidup mencatat timbulan sampah Palembang mencapai 1.260 ton per hari, atau lebih dari 460 ribu ton per tahun. Angka itu yang membuat Ratu Dewa menyebut persoalan sampah kota sudah darurat.

Pemkot Palembang tengah membangun Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) di Keramasan dengan kapasitas 1.000 ton per hari. Meski begitu, Ratu Dewa menegaskan fasilitas itu bukan pembenaran untuk terus memproduksi sampah.

"PSEL bukan berarti kita boleh terus menghasilkan sampah. Pengurangan dan pemilahan sampah tetap harus dimulai dari rumah, lingkungan dan masyarakat," tegas Ratu Dewa.

Ajakan Mulai dari Rumah, Bukan Seremonial

Wali kota meminta warga menghentikan kebiasaan buang sampah ke sungai, mengurangi plastik, dan memilah sampah dari rumah. Pesan itu ia sampaikan langsung di lokasi aksi.

"Jangan buang sampah sembarangan. Mari kita peduli lingkungan dan menjadikannya sebagai budaya. Mulai dari diri sendiri, keluarga, kemudian mengajak masyarakat," tegasnya.

Gerakan ini diperkuat The Guardians of The River – ICCN Sumsel bersama Koordinator Daerah ICCN Sumsel Muhammad Hafidz Alfuqan dan aktivis lingkungan asal Jerman Benedict Wermter alias Bule Sampah.

ICCN Sumsel: Jangan Berhenti Sekali Kegiatan

Muhammad Hafidz Alfuqan menilai keberlanjutan gerakan lebih penting daripada aksi seremonial. Ia meminta kegiatan bersih-bersih tidak berhenti pada satu momen saja.

"Yang paling penting adalah konsisten. Gerakan ini jangan hanya berhenti pada satu kegiatan, tetapi harus terus dilakukan," ujarnya.

Benedict Wermter alias Bule Sampah menyoroti pentingnya aksi yang tersebar luas agar pesan menjaga sungai sampai ke masyarakat. Menurutnya, dokumentasi visual bisa membangun kesadaran lebih besar.

"Menurut saya kita harus membuat aksi, bukan cuma membuat aksi, tetapi juga membuat video, membuatnya viral dan membangun kesadaran," katanya.

Kolaborasi Jadi Kunci Musi Bebas Sampah

Aksi di bawah Ampera menunjukkan menjaga Sungai Musi butuh kolaborasi nyata, bukan hanya pemerintah. Relawan, komunitas, mahasiswa, dan pemuda ikut turun ke bantaran dalam gerakan yang sama.

Dengan timbulan 1.260 ton per hari dan PSEL Keramasan yang belum beroperasi penuh, pengurangan sampah dari rumah tangga menjadi pekerjaan yang masih menunggu hasil.

Reporter: Rizal Fikri
Sumber: halopos.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top