SUMATERA SELATAN — Kabar ini datang dari pengumuman resmi Xiaomi, Kamis (11/9/2026). Feng bukan nama baru di internal Xiaomi — ia bergabung sejak November 2017, tepat saat perusahaan asal China itu mulai ekspansi agresif ke pasar internasional.
Yang menarik, penunjukan ini bukan sekadar rotasi jabatan biasa. Feng datang dengan rekam jejak yang cukup spesifik: ia membangun operasional Xiaomi di kawasan Balkan dari nol hingga profit pada 2018.
Sebelum ke Indonesia, Feng memimpin beberapa pasar yang karakternya berbeda-beda. Di Kolombia (Maret 2021–Juni 2024), ia mengintegrasikan portofolio smartphone dengan ekosistem AIoT. Xiaomi mencatat pangsa pasar hingga 32% dan posisi teratas di pasar tersebut berdasarkan data yang disampaikan perusahaan.
Kemudian di kawasan tengah dan timur Eropa, Xiaomi disebut mencapai pangsa pasar hingga 46%. Lalu di Italia (Juni 2024–Juni 2026), data Canalys menunjukkan Xiaomi menembus tiga besar pasar smartphone dengan pangsa 14% dan pertumbuhan tahunan 52% pada kuartal II-2025.
Artinya, Feng bukan orang yang asing dengan pasar yang sudah dikuasai pemain lokal kuat. Kolombia dan Italia punya karakter konsumen yang tidak mudah ditebak — modal yang relevan untuk Indonesia.
Di bawah kepemimpinan Feng, Xiaomi Indonesia akan memprioritaskan tiga hal: penguatan teknologi dan pengalaman pengguna, perluasan akses produk dan layanan, serta dorongan strategi New Retail dan layanan purna jual di berbagai wilayah Indonesia.
New Retail sendiri bukan istilah baru di Xiaomi. Konsep ini menggabungkan toko offline dengan pengalaman digital — pengguna bisa mencoba produk langsung, tapi pembelian dan layanan tetap terhubung ke ekosistem online. Untuk pasar Indonesia yang luas dan tersebar, pendekatan ini masuk akal, terutama untuk produk di luar smartphone.
Soal purna jual, ini justru titik yang sering dikeluhkan pengguna Xiaomi di Indonesia. Jaringan service center yang belum merata di kota kecil jadi masalah klasik. Feng menyebut layanan after-sales dengan jangkauan luas sebagai target.
Xiaomi Indonesia juga akan melanjutkan pengembangan ekosistem "Human x Car x Home" — konsep yang menghubungkan perangkat personal, kendaraan, dan produk rumah pintar dalam satu ekosistem.
Konsep ini sudah berjalan di China, tapi implementasinya di Indonesia masih tahap awal. Smartphone dan wearable sudah masuk. Untuk kategori car, Xiaomi belum punya kehadiran resmi di pasar otomotif Indonesia. Jadi ekosistem ini masih lebih banyak janji daripada kenyataan, setidaknya untuk saat ini.
Feng menegaskan pendekatannya dimulai dari pemahaman pasar. "Saya datang ke Indonesia dengan semangat untuk belajar, mendengarkan, dan memahami kebutuhan konsumen Indonesia secara lebih dekat," ujarnya.
Ia juga menyebut Indonesia sebagai salah satu pasar paling strategis bagi Xiaomi secara global. "Indonesia adalah pasar yang sangat dinamis dengan potensi dan peluang yang luar biasa. Saya optimistis Xiaomi dapat terus tumbuh, berinovasi, dan menciptakan dampak yang semakin besar bagi masyarakat Indonesia," kata Feng.
Soal komitmen jangka panjang, Feng menyatakan akan membawa pengalaman dari berbagai pasar global untuk memperkuat akses masyarakat terhadap ekosistem teknologi Xiaomi melalui New Retail, sekaligus menghadirkan pengalaman purna jual yang lebih nyaman dengan jangkauan luas di seluruh Indonesia.
Feng punya waktu untuk membuktikan diri. Tapi ekspektasi publik terhadap Xiaomi Indonesia sudah tinggi — dan janji New Retail serta purna jual yang lebih baik akan diuji dalam 12 bulan pertama kepemimpinannya.