SUMATERA SELATAN — Sarah Marsh, ibu sekaligus penulis asal Inggris, membagikan pengalamannya di The Guardian. Ia belum tahu dirinya menyandang ADHD saat melahirkan. Yang ia rasakan waktu itu cuma satu: kewalahan.
Bagi banyak ibu dengan ADHD, kehamilan sampai masa awal mengasuh bayi memang bisa terasa berat. Bukan karena kurang mampu, tapi karena otak mereka memproses rangsangan dengan cara berbeda.
Empat jam setelah melahirkan, Sarah berada di ruang perawatan postpartum. Ia belum tidur sejak datang ke rumah sakit malam sebelumnya.
Di sekelilingnya terdengar tangisan bayi. Lampu rumah sakit terang sekali. Pikirannya penuh kekhawatiran. Sarah menangis, mengaku tidak bisa bernapas, dan ingin segera pulang.
Proses persalinan sendiri sulit bagi orang dengan ADHD karena banyak hal terjadi di luar kendali. Ruang postpartum menambah beban lewat suara, cahaya, orang yang datang-pergi, dan perubahan lingkungan yang mendadak.
Estrogen dan progesteron berubah besar selama kehamilan. Para ilmuwan masih mempelajari bagaimana perubahan ini memengaruhi gejala ADHD.
King's College London tengah meneliti hubungan hormon dan gejala ADHD pada perempuan. Hasilnya tidak sama untuk semua orang.
Sebagian ibu merasa gejalanya lebih mudah dikelola di periode tertentu kehamilan. Sebagian lain justru merasa makin berat. Tidak ada pola tunggal yang berlaku untuk semua.
Penelitian terhadap 1.204 perempuan hamil dari delapan negara menemukan gejala ADHD di trimester ketiga berkaitan dengan stres dan gejala depresi lebih tinggi. Dukungan sosial mereka juga cenderung lebih rendah.
Systematic review yang terbit 2025 menemukan perempuan dengan ADHD berisiko lebih tinggi mengalami depresi perinatal. Prevalensinya berkisar 16,76 sampai 57,6 persen di berbagai penelitian.
Jadi kalau Bunda dengan ADHD merasa lebih mudah stres atau kewalahan, itu bukan tanda kurang mampu beradaptasi.
Sarah dan pasangannya belum punya rencana matang saat membawa bayi pulang. Mereka belum memikirkan detail pola tidur dan kebutuhan harian bayi.
Padahal bayi butuh banyak hal sekaligus: menyusu, ganti popok, tidur, mandi, kontrol kesehatan, imunisasi, dan menenangkan tangisannya. Bagi orang dengan ADHD yang sudah kesulitan mengatur waktu dan fokus, tumpukan ini bisa terasa luar biasa.
Keputusan soal obat ADHD selama hamil sebaiknya dibicarakan dengan dokter. Setiap Bunda punya kondisi dan riwayat berbeda.
Jangan menghentikan atau mengganti dosis sendiri tanpa konsultasi. Dokter kandungan dan psikiater bisa membantu menimbang manfaat dan risikonya.
Birth plan membantu Bunda dengan ADHD merasa lebih siap. Tulis hal-hal yang bisa dikendalikan, seperti siapa yang mendampingi dan suasana ruangan yang diinginkan.
Siapkan juga rencana cadangan kalau situasi tidak sesuai harapan. Fleksibilitas penting supaya Bunda tidak makin tertekan saat ada perubahan.
Ekspektasi jadi ibu sempurna bikin siapa pun cepat lelah. Untuk Bunda dengan ADHD, tekanan ini bisa memicu burnout.
Wajar kalau rumah berantakan atau jadwal meleset. Fokus ke kebutuhan dasar bayi dan diri sendiri dulu.
Segera cari bantuan kalau Bunda merasa sedih terus-menerus, cemas berlebihan, sulit tidur meski bayi tidur, atau kehilangan minat pada hal yang biasa dinikmati.
Bicarakan dengan bidan, dokter, atau psikolog. Skrining kesehatan mental selama hamil dan setelah melahirkan sangat dianjurkan untuk perempuan dengan gejala ADHD.
Sarah baru memahami pengalamannya setahun setelah melahirkan, ketika tahu dirinya neurodivergen. Pemahaman itu membantunya mengerti mengapa masa postpartum terasa begitu berat.
Dengan dukungan tepat, strategi yang sesuai, dan bantuan orang sekitar, Bunda dengan ADHD tetap bisa merawat bayi dengan baik. Yang dibutuhkan bukan kesempurnaan, tapi kesadaran dan dukungan.