SUMATERA SELATAN — Pergerakan rupiah pagi ini menunjukkan duel dua kekuatan: tekanan dari harga minyak yang tinggi melawan sentimen pelemahan dolar AS di pasar global. Data Bloomberg Technoz mencatat, pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB, rupiah masih tertekan 0,02% ke Rp17.644/US$. Namun, kurang dari 30 menit berselang, arahnya berbalik dan terus menguat hingga ke level Rp17.614/US$.
Laju rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang berada di zona hijau. Won Korea Selatan memimpin penguatan dengan melesat 0,74%, disusul yen Jepang yang naik 0,72% ke level tertingginya sejak Februari di JPY154,05/US$.
Mata uang kawasan lainnya juga ikut menghijau, antara lain:
Pelemahan dolar AS yang berkelanjutan menjadi katalis utama penguatan mata uang Asia pagi ini. Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan greenback terhadap enam mata uang utama dunia tergerus ke level 98,74. Pelaku pasar masih mencerna potensi inflasi AS yang lebih tinggi, yang berimbas pada ekspektasi suku bunga The Fed ke depan.
Menariknya, penguatan rupiah ini terjadi meski harga minyak mentah dunia masih bertengger di level tinggi, sekitar US$97/barel. Biasanya, kenaikan harga komoditas energi menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara pengimpor minyak seperti Indonesia.
Pergerakan rupiah yang volatil di awal sesi menunjukkan pasar masih mencari arah. Setelah berhasil menembus level Rp17.614/US$, pelaku pasar akan mencermati apakah penguatan ini mampu bertahan atau justru kembali tertekan oleh harga minyak yang tinggi.
Level psikologis Rp17.600/US$ menjadi area yang krusial untuk dicermati. Jika ditembus, potensi penguatan lebih lanjut akan terbuka. Sebaliknya, bila gagal bertahan, tekanan balik menuju Rp17.650/US$ bisa kembali terjadi.