PALEMBANG — Data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) mencatat sedikitnya 192 lokasi kebakaran hutan, kebun, dan lahan (Karhutbunla) terjadi di wilayah Musi Banyuasin. Dari total luas terdampak mencapai 228 hektare, sebanyak 67 lokasi di antaranya telah berhasil ditanggulangi dan dipadamkan.
Titik terbanyak tersebar di Kecamatan Lais dengan 43 lokasi. Disusul Bayung Lencir dan Sekayu yang masing-masing mencatat 41 lokasi, serta Sungai Keruh dengan 30 lokasi.
Ancaman kebakaran tidak hanya terpusat di satu wilayah. Data BPBD menunjukkan sebaran yang merata di sejumlah kecamatan, antara lain Batang Hari Leko 11 lokasi, Sanga Desa enam lokasi, Lalan enam lokasi, dan Lawang Wetan enam lokasi.
Kecamatan Sungai Lilin tercatat empat lokasi, sementara Plakat Tinggi, Keluang, Tungkal Jaya, dan Babat Supat masing-masing di bawah empat lokasi. Kondisi ini menuntut kewaspadaan berlapis di seluruh tingkatan wilayah.
Respons cepat menjadi kunci dalam penanganan karhutla. Kepala BPBD Muba Marko Susanto menjelaskan, Posko Induk Siaga Karhutla di Sekayu kini dioperasikan penuh. Posko tersebut didukung empat regu piket yang standby selama 24 jam nonstop.
"Setiap laporan kejadian yang diterima akan segera ditindaklanjuti dengan mengerahkan tim, peralatan, dan kendaraan menuju lokasi kejadian," ujar Marko dalam rapatkoordinasi di Griya Agung Palembang, Senin (31/8/2026).
Selain posko induk, Pemkab Muba membentuk Pos Komando Penanggulangan Darurat Bencana Asap Akibat Kebakaran Hutan, Kebun, dan Lahan di 15 kecamatan rawan. Di setiap kecamatan, dua hingga lima personel diterjunkan untuk menjangkau lokasi terdekat jika terjadi kebakaran.
Penanganan di lapangan melibatkan unsur TNI, Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api (MPA), serta Regu Pemadam Kebakaran (RPK) milik perusahaan.
Sekretaris Daerah Kabupaten Muba Syafaruddin menegaskan, persoalan karhutla tidak bisa diselesaikan secara parsial. Diperlukan sinergi dan gerak cepat dari semua pihak agar dampak terhadap masyarakat bisa diminimalkan.
"Penanggulangan Karhutla tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Semua pihak harus bergerak dalam satu komando, mulai dari pencegahan, kesiapsiagaan, penanganan di lapangan hingga mitigasi agar dampaknya terhadap masyarakat dapat diminimalkan," tegasnya.
Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri langsung Menteri Kehutanan RI Raja Juli Antoni, Kepala BNPB RI Letjen TNI Suharyanto, dan Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru. Kehadiran para pejabat pusat ini menandakan bahwa persoalan karhutla di Sumsel menjadi perhatian nasional.
Upaya penguatan posko dan komando di level kecamatan diharapkan mampu memangkas waktu tempuh tim pemadam menuju titik api. Dengan begitu, luas lahan yang terbakar dapat ditekan dan risiko kabut asap bagi warga dapat dicegah lebih dini.