SUMATERA SELATAN — Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung hingga Kamis (27/8) dengan dukungan helikopter dan drone. Otoritas Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nepal mengonfirmasi 165 korban tewas di wilayahnya, sementara 826 orang dilaporkan hilang. Angka tersebut mencakup wisatawan mancanegara, pejabat sipil, tentara, polisi, dan warga setempat.
Otoritas China melaporkan tiga orang tewas dan 558 lainnya hilang di Kabupaten Gyirong, Daerah Otonomi Xizang (Tibet), akibat longsor lumpur yang menyertai bencana tersebut.
Berdasarkan citra satelit, banjir diduga dipicu oleh pecahnya bongkahan es besar dari gletser Himalaya sekitar 20 kilometer timur laut perlintasan perbatasan Rasuwa-Rasuwagadhi. Runtuhan tersebut membawa berton-ton es dan batu ke Sungai Bhotekoshi di bawahnya.
Distrik Chitwan di Provinsi Bagmati mencatat jumlah korban tewas tertinggi dengan 64 orang, disusul Dhading sebanyak 27 orang dan Nawalparasi East sebanyak 22 orang. Kepolisian Nepal menyatakan 28 anggotanya masih hilang dalam tugas.
Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan kepada penyiar India NDTV bahwa hampir 300 warga India dilaporkan hilang. Mereka diduga menggunakan jalur di daerah terdampak untuk melakukan Masarovar Yatra, ziarah suci bagi umat Hindu menuju Gunung Kailash.
Wisatawan asing lain yang dilaporkan hilang mencakup 54 warga Amerika Serikat, 34 warga Australia, 33 warga Inggris, 17 warga Malaysia, dan delapan warga Korea Selatan.
Banjir menghancurkan 19 jembatan dan sekitar 40 kilometer ruas jalan utama. Kerusakan infrastruktur ini memutus jalur transportasi dan menjadi kendala terbesar dalam operasi penyelamatan. Tentara Nepal dan operator helikopter swasta telah mengevakuasi 114 orang ke tempat aman.
Khanal menyebut bencana ini menyebabkan "kerusakan ekstrem" di sejumlah distrik dan mengingatkan risiko masih tinggi di sepanjang bantaran Sungai Bhotekoshi dan Trishuli. Pemerintah Nepal menetapkan Rasuwa, Nuwakot, dan Dhading sebagai "wilayah krisis bencana" selama tiga bulan.
India, China, dan Bank Dunia telah bergerak mengoordinasikan bantuan keuangan untuk operasi penyelamatan, bantuan kemanusiaan, dan rekonstruksi. Menteri Luar Negeri India mengonfirmasi pengiriman pesawat kedua berisi 37,5 ton bantuan berupa obat-obatan, paket makanan, dan bahan penanggulangan bencana pada Kamis pagi.
Di sisi China, Kementerian Manajemen Darurat mengirim lebih dari 100 petugas pemadam dan personel penyelamat ke wilayah bencana. State Grid Xizang Electric Power Company Limited tengah menyiapkan pasokan listrik darurat di Kota Gyirong, sementara pesawat carter pertama yang membawa tim penyelamat telah tiba di Bandara Xigaze.
Warga yang terjebak diminta menyalakan api dan menghasilkan asap untuk menandai lokasi mereka agar mudah terdeteksi dari udara.