PALEMBANG — BPBD Sumatera Selatan mencatat 251 titik panas (hotspot) terpantau di 14 kabupaten/kota hingga pagi tadi. Angka ini menjadi yang tertinggi sepanjang 2026, melonjak dari rekor sebelumnya yang tercatat 241 titik pada Jumat (7/8/2026).
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman mengatakan, dari total tersebut, 181 titik berada di lahan mineral dan 70 titik lainnya di kawasan gambut. Kondisi ini menjadi perhatian serius karena Sumsel tengah berada di puncak musim kemarau.
"Hotspot di Sumsel hingga pagi tadi tercatat sebanyak 251 titik. Ini merupakan angka tertinggi sepanjang tahun 2026," ujar Sudirman.
Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) mencatat hotspot tertinggi dengan 54 titik, di mana 23 di antaranya berada di lahan gambut. Menyusul Musi Banyuasin (Muba) dengan 51 titik, termasuk 29 titik di kawasan gambut.
Keduanya menjadi fokus utama pemantauan karena karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar dan sulit dipadamkan saat musim kemarau.
Selain OKI dan Muba, titik panas juga terdeteksi di sejumlah wilayah lainnya dengan rincian sebagai berikut:
Meski angkanya tinggi, Sudirman mengingatkan bahwa kemunculan hotspot tidak otomatis berarti telah terjadi kebakaran. Titik panas merupakan indikator awal yang harus diverifikasi melalui pengecekan langsung di lapangan.
"Hotspot tidak serta-merta menandakan telah terjadi kebakaran. Titik panas merupakan indikator awal yang harus diverifikasi," katanya.
Kendati demikian, vegetasi dan lahan yang kering membuat api dapat berkembang lebih cepat apabila tidak segera ditangani. BPBD Sumsel terus memantau perkembangan hotspot dan berkoordinasi agar setiap titik terdeteksi segera diverifikasi.
Akumulasi hotspot di Sumsel sepanjang Agustus 2026 hingga Senin (10/8) telah mencapai 1.242 titik. Angka ini menggambarkan tingginya aktivitas titik panas selama periode puncak kemarau sekaligus menjadi peringatan bagi seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla).