PALEMBANG — Keterbatasan sumber air menjadi musuh utama petugas dalam memadamkan kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan. Kondisi ini memaksa Manggala Agni mengubah pola operasi, tidak lagi sekadar mengejar titik api, tetapi juga memastikan air bisa menjangkau lokasi kebakaran yang semakin sulit diakses.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Kementerian Kehutanan, Ferdian Krisnanto, mengatakan alat berat kini dikerahkan untuk membuka akses menuju sumber air. Kanal-kanal yang mulai mengering juga diperdalam agar tetap bisa dimanfaatkan sebagai cadangan air operasi.
"Langkah cepat yang kami lakukan sekarang adalah memastikan ketersediaan air untuk operasi pemadaman. Salah satunya dengan memperdalam kanal dan membuat embung-embung sebagai cadangan air di dekat lokasi kebakaran," ujarnya di Palembang, Jumat.
Selain mendalami kanal, petugas secara bertahap membangun embung-embung kecil di sekitar lokasi operasi. Embung ini dibuat dengan jarak sekitar 50 meter dan berfungsi sebagai tempat penyimpanan air sementara.
Strategi ini dirancang agar petugas tidak bergantung pada sumber air yang lokasinya jauh dari titik kebakaran. Ketika bergerak lebih dalam ke area terdampak, pasokan air sudah tersedia di pos-pos terdekat.
Kecamatan Tulung Selapan di OKI menjadi salah satu wilayah yang paling diwaspadai. Sejak Kamis (7/8), satu regu Manggala Agni telah diterjunkan untuk bergabung dengan Regu Pemadam Kebakaran (RPK) perusahaan dari Grup Sinarmas.
Penguatan operasi juga dilakukan dengan mendatangkan personel dari luar daerah. Satu regu diberangkatkan dari Sarolangun, Jambi menuju Tulung Selapan, sementara satu regu lainnya dari Muara Tebo sempat mengalami keterlambatan akibat terjebak kemacetan panjang di kawasan Betung sebelum akhirnya tiba di Palembang dan segera diterjunkan ke lokasi kebakaran.
Operasi pemadaman tidak hanya terpusat di OKI. Di Kecamatan Rantau Bayur, Kabupaten Banyuasin, dua regu Manggala Agni dari Daops Lahat dan Daops Banyuasin melakukan pemadaman bersama satuan tugas gabungan.
Sementara itu, satu regu tambahan ditempatkan di wilayah Ogan Ilir untuk memperkuat personel yang sebelumnya telah beroperasi dari Pondok Kerja Banyuasin. Penambahan personel dan penyediaan akses sumber air menjadi kunci percepatan penanganan karhutla di Sumsel selama periode kemarau ini.