PALEMBANG — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat penurunan drastis kualitas udara di Palembang pada Rabu (5/8) malam hingga Kamis (6/8) dini hari. Berdasarkan grafik pemantauan Stasiun PM2.5 Talang Betutu, konsentrasi partikel debu halus sempat berada di level berbahaya pada pukul 01.00 WIB, dengan angka melebihi 300 mikrogram per meter kubik.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mengatakan lonjakan polutan tersebut merupakan imbas dari penyebaran asap karhutla yang terjadi di sejumlah wilayah di Sumatera Selatan. "Pukul 06.00 WIB tadi sudah kategori sedang," ujarnya di Palembang, Kamis.
Data yang dihimpun BMKG menunjukkan fluktuasi kualitas udara yang tajam dalam kurun waktu beberapa jam. Di Stasiun Talang Betutu, kategori sangat tidak sehat terjadi pada pukul 00.00 WIB, lalu meningkat menjadi berbahaya satu jam berikutnya, dan kembali turun ke level sangat tidak sehat pada pukul 02.00 WIB.
Sementara itu, pemantauan di Stasiun PM2.5 Musi 2 Palembang mencatat kualitas udara sempat berada pada kategori tidak sehat. Konsentrasi PM2.5 di lokasi tersebut mencapai lebih dari 90 mikrogram per meter kubik pada pukul 03.00 WIB.
Memasuki pukul 08.00 WIB, kualitas udara di kawasan Musi 2 perlahan pulih dan kembali berada pada kategori sedang dengan konsentrasi PM2.5 di bawah 50 mikrogram per meter kubik. "Penurunan kualitas udara terjadi pagi ini karena masih ada sisa penyebaran tadi malam," kata Wandayantolis.
BMKG menduga kabut asap yang menyelimuti Palembang berasal dari titik-titik kebakaran yang terpantau di sejumlah kabupaten dan kota di Sumatera Selatan. Wilayah yang mengalami karhutla antara lain Ogan Komering Ilir (OKI), Ogan Ilir, Prabumulih, dan Banyuasin.
Kondisi ini diperparah dengan konsentrasi PM2.5 yang tinggi. BMKG menjelaskan, ambang batas kategori sangat tidak sehat berada di angka 200 mikrogram per meter kubik, sementara level berbahaya dimulai dari konsentrasi di atas 300 mikrogram per meter kubik.
Menyikapi kondisi udara yang fluktuatif, BMKG mengeluarkan imbauan kepada masyarakat Palembang untuk lebih waspada, terutama pada malam hingga dini hari. Warga diminta mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
"Kita mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas luar ruangan dan menggunakan masker saat bepergian agar tidak terdampak kabut asap," kata Wandayantolis.
Pemantauan kualitas udara ini menjadi perhatian serius mengingat Palembang kerap menjadi langganan kabut asap saat musim kemarau. BMKG akan terus memantau perkembangan konsentrasi PM2.5 di dua stasiun pemantau yang tersebar di kota tersebut untuk memberikan peringatan dini kepada warga.