PALEMBANG — Dinkes Sumsel mengingatkan empat kelompok paling rentan terhadap dampak kabut asap karhutla, yaitu balita, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit kronis. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa Ogahtriyah, menyebut ancaman peningkatan kasus diprediksi terjadi pada puncak musim kemarau, Agustus hingga September 2026.
“Semester pertama memang menunjukkan tren yang lebih baik, tetapi memasuki Agustus hingga September kita tetap harus waspada karena kualitas udara berpotensi menurun akibat karhutla,” ujarnya.
Data Dinkes Sumsel menunjukkan Muara Enim berada di posisi kedua dengan 30.668 kasus, disusul Musi Banyuasin 17.946 kasus, dan OKU Timur 15.109 kasus. Banyuasin mencatat 14.140 kasus, Musi Rawas 13.700 kasus, serta Lahat 13.523 kasus selama periode yang sama.
Ira menjelaskan, balita menjadi kelompok paling berisiko karena sistem kekebalan tubuh dan organ pernapasannya belum berkembang sempurna. Sedangkan pada lansia, penurunan fungsi paru-paru akibat faktor usia membuat mereka lebih mudah mengalami komplikasi.
Paparan polusi udara tidak hanya berdampak pada kesehatan ibu hamil, tetapi juga dapat memengaruhi kondisi janin. Begitu pula penderita penyakit kronis seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit jantung, hingga diabetes yang berpotensi mengalami perburukan kondisi saat kualitas udara memburuk.
Gejala ISPA yang umum muncul antara lain batuk, pilek, hidung tersumbat, sakit tenggorokan, demam, sakit kepala, hingga tubuh terasa lemas. Pada kondisi berat, penderita dapat mengalami sesak napas, nyeri dada, demam tinggi yang tidak kunjung turun, bahkan bibir membiru sehingga memerlukan penanganan medis segera.
Antisipasi dampak kabut asap sebenarnya sudah dimulai sejak awal Juni. Dinkes Sumsel menerbitkan Surat Edaran kepada seluruh Dinas Kesehatan kabupaten dan kota pada 2 Juni 2026 sebagai tindak lanjut Status Siaga Darurat Bencana Asap akibat Karhutla yang ditetapkan Pemerintah Provinsi Sumsel.
Melalui edaran tersebut, pemerintah daerah diminta memperkuat surveilans penyakit, meningkatkan edukasi kepada masyarakat, mengaktifkan pemantauan kualitas udara, serta memastikan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan siap menghadapi lonjakan pasien. Daerah terdampak juga diminta menyiapkan posko kesehatan dan melaporkan perkembangan kasus ISPA serta pneumonia setiap pekan.
“Kami sudah meminta seluruh Dinas Kesehatan kabupaten dan kota meningkatkan kewaspadaan, mulai dari sosialisasi kepada masyarakat, memperkuat surveilans penyakit, hingga menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan apabila terjadi peningkatan kasus,” kata Ira.
Dinkes Sumsel mengimbau masyarakat, terutama kelompok rentan, untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Penggunaan masker, menjaga kualitas udara di dalam rumah, memperbanyak konsumsi air putih, dan mengonsumsi makanan bergizi menjadi langkah mitigasi yang disarankan.
“Jangan menunggu sampai kondisi menjadi berat. Bila keluhan tidak membaik atau muncul sesak napas, segera datang ke puskesmas atau rumah sakit agar dapat ditangani lebih cepat,” tegas Ira.