Inflasi Sumsel Terkendali di Tengah El Nino, BI Catat Deflasi 0,24 Persen pada Juli 2026

Penulis: Hamdani Putra  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 17:48:31 WIB
Petugas menunjukkan harga komoditas pangan saat operasi pasar murah di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (6/8/2026).

PALEMBANG — Tekanan harga di Sumatera Selatan justru mereda pada Juli 2026, berbanding terbalik dengan kekhawatiran melonjaknya permintaan saat tahun ajaran baru dan musim kemarau. Bank Indonesia mencatat deflasi bulanan sebesar 0,24 persen, membaik dibanding Juni 2026 yang masih mengalami inflasi 0,36 persen. Angka inflasi tahunan pun ikut turun dari 2,89 persen menjadi 2,50 persen.

Penurunan harga ini utamanya didorong oleh melimpahnya pasokan komoditas hortikultura. Bawang merah, cabai merah, cabai rawit, dan tomat menjadi penyumbang utama deflasi seiring masuknya musim panen di sentra produksi pada pertengahan hingga akhir Juli. Harga emas perhiasan juga ikut melemah mengikuti perbaikan sentimen pasar global.

Bambang Pramono menegaskan capaian ini bukan kebetulan, melainkan hasil koordinasi lintas instansi yang berjalan efektif.

"Deflasi yang terjadi pada Juli 2026 menunjukkan bahwa koordinasi dan sinergi pengendalian inflasi di Sumatera Selatan berjalan efektif. Stabilitas harga tetap terjaga sehingga mampu menjaga daya beli masyarakat, sekaligus memberikan keseimbangan terhadap kesejahteraan para produsen," ujar Bambang, Kamis (6/8/2026).

Beras dan Bawang Putih Tahan Laju Deflasi

Meski secara umum harga turun, laju deflasi tertahan oleh kenaikan permintaan beras dan bawang putih. Penyebabnya, program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali berjalan dan aktivitas sekolah meningkat seiring dimulainya tahun ajaran baru, yang otomatis mengerek konsumsi kelompok pendidikan.

381 Operasi Pasar Digelar untuk Jaga Harga

TPID Sumsel tidak tinggal diam mengantisipasi gejolak harga. Hingga akhir Juli 2026, lebih dari 381 kegiatan Operasi Pasar Murah (OPM), Gerakan Pangan Murah (GPM), dan Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) telah digelar di berbagai kabupaten/kota. Puluhan inspeksi mendadak ke pasar juga dilakukan untuk memastikan stok tersedia dan harga eceran tertinggi dipatuhi pedagang.

Dukungan finansial juga dikucurkan. BI Sumsel memfasilitasi 77 kali subsidi ongkos angkut untuk komoditas pangan utama dengan total volume mencapai 47,92 ton. Pasokan dari luar daerah diperkuat lewat pembelian bawang merah dari Sumatera Barat sebanyak 22,67 ton dan cabai dari Kabupaten Magelang sebanyak 3,68 ton.

Kewaspadaan Menghadapi Agustus dan Puncak Kemarau

BI memperkirakan tekanan inflasi akan meningkat pada Agustus 2026. Momentum peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI berpotensi mendorong konsumsi masyarakat, sementara ancaman musim kemarau yang lebih kering bisa mengganggu produksi hortikultura.

"Ke depan, kami tetap mewaspadai potensi kenaikan inflasi akibat meningkatnya permintaan musiman dan dampak musim kemarau. Karena itu, koordinasi seluruh TPID akan terus diperkuat agar pasokan pangan tetap tersedia, distribusi berjalan lancar, dan harga tetap terkendali," kata Bambang.

Kerja Sama Antardaerah dan Transformasi GSMP

Untuk memperkuat ketahanan pangan jangka panjang, TPID memperluas kerja sama antardaerah. Hingga Juli 2026, telah terjalin delapan Kesepakatan Bersama (KSB) dan 21 Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara pemerintah daerah Sumsel dan Jawa Tengah. Empat PKS tambahan juga dihasilkan dari kerja sama Business to Business (B2B) untuk melancarkan distribusi pangan.

Di sisi hulu, BI bersama pemda mentransformasikan Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP) menjadi Rantai Pasok Pangan GSMP. Program ini melibatkan pesantren, koperasi, pelaku usaha, perbankan, dan offtaker untuk membangun ekosistem produksi serta distribusi pangan yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Reporter: Hamdani Putra
Sumber: sumselmedia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top