PALEMBANG — Ratusan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) dari 17 kabupaten/kota di Sumatera Selatan menyampaikan langsung harapan mereka kepada Calon Ketua Umum PBNU, KH Abdul Ghaffar Rozin, dalam agenda silaturahmi yang berlangsung hangat di Palembang. Pertemuan ini menjadi ruang dialog strategis membahas arah organisasi lima tahun ke depan, khususnya setelah tujuh PCNU di Sumsel menuntaskan Konferensi Cabang (Konfercab).
Gus Rozin, sapaan akrabnya, menilai tantangan terbesar NU pada abad kedua bukanlah soal ekspansi program, melainkan menjaga kohesivitas organisasi yang semakin kompleks. Menurutnya, persatuan adalah fondasi utama agar NU tetap independen dan mampu menjadi mitra kritis pemerintah.
“Terkadang kita perlu mundur satu atau dua langkah demi menjaga ukhuwah dan memperkuat persatuan organisasi. Yang paling penting adalah NU tetap utuh dan mampu terus berkhidmah kepada umat,” ujarnya di hadapan jajaran Pengurus Wilayah NU (PWNU) Sumsel dan pengurus cabang.
Dalam sesi dialog, Ketua PCNU Pagaralam, KH Deni Priansyah, melontarkan pertanyaan kritis soal langkah konkret yang akan diambil Gus Rozin jika terpilih. Ia menyoroti masih banyaknya warga di tingkat ranting yang belum merasakan manfaat langsung program pemberdayaan organisasi.
Deni mencontohkan keberhasilan gerakan KOIN NU yang di sejumlah daerah mampu menghimpun dana hingga ratusan juta rupiah. Ia berharap model pemberdayaan serupa tidak hanya berhenti di tingkat cabang, tetapi menjangkau hingga ke akar rumput.
“Kami berharap program-program seperti itu dapat menjangkau seluruh daerah sehingga warga benar-benar merasakan kehadiran PBNU,” kata Deni.
Menanggapi hal tersebut, Gus Rozin menegaskan bahwa penguatan ekonomi jamaah akan menjadi agenda strategis PBNU ke depan. Ia menyebut mayoritas warga Nahdliyin menggantungkan hidup pada sektor pertanian, perikanan, dan UMKM, sehingga pemberdayaan harus dimulai dari basis ekonomi tersebut.
“NU adalah masyarakat sipil yang tumbuh dari bawah. Karena itu, penguatan ekonomi jamaah harus dilakukan melalui pemberdayaan masyarakat, penguatan kelembagaan, pengembangan usaha warga, serta pengelolaan aset organisasi yang profesional,” jelasnya.
Ia menambahkan, program seperti KOIN NU dan gerakan gotong royong ekonomi akan memperbesar kapasitas organisasi menjalankan khidmah secara mandiri tanpa bergantung pada pihak eksternal.
Rais Syuriah PCNU Ogan Ilir, KH Qusyairi Abror, mengangkat persoalan marwah pesantren yang belakangan kerap tercoreng akibat pemberitaan negatif melibatkan oknum. Ia mendesak PBNU memiliki strategi komunikasi publik yang lebih kuat agar kasus individu tidak digeneralisasi menjadi persoalan seluruh pesantren.
Gus Rozin merespons bahwa pesantren adalah pilar utama NU yang kehormatannya wajib dijaga. Ia menekankan pentingnya pembenahan tata kelola, penguatan sistem perlindungan santri, dan komunikasi publik sebagai satu paket kebijakan.
“Pesantren harus tetap menjadi tempat yang aman, melahirkan ulama, membangun akhlak, sekaligus menjaga tradisi keilmuan Ahlussunnah wal Jamaah. Karena itu, perlindungan terhadap santri dan penguatan tata kelola pesantren harus menjadi bagian dari agenda besar PBNU,” tegasnya.
Silaturahmi ini menjadi penanda bahwa Sumatera Selatan siap menyuarakan aspirasi warga Nahdliyin di Muktamar mendatang. Harapan yang mengemuka bukan sekadar soal regenerasi kepemimpinan, tetapi juga komitmen nyata untuk membawa NU lebih dekat dengan warganya di tingkat paling bawah.