Titik Panas di Sumsel Melonjak Jadi 104 dalam Sehari, BNPB Kerahkan Pesawat Tabur Garam Selama Sepekan

Penulis: Fauzan Akbar  •  Kamis, 06 Agustus 2026 | 15:27:02 WIB
Pesawat milik BNPB menyemai garam untuk modifikasi cuaca di langit Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir, Sumatera Selatan, Selasa (4/8/2026).

PALEMBANG — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memulai Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatera Selatan pada Selasa (4/8/2026) sebagai respons atas lonjakan titik panas yang mengancam kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pada hari pertama, pesawat penyemai melakukan satu kali penerbangan (sorti) dengan menyebarkan 1.000 kilogram garam (NaCl) di wilayah Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir.

Keputusan ini diambil setelah pantauan Satelit NASA NOAA20 mencatat kenaikan drastis titik panas, dari 46 titik pada 2 Agustus menjadi 104 titik keesokan harinya. Kepala BNPB, Suharyanto, menyebut angka tersebut sebagai sinyal awal meningkatnya potensi kebakaran yang sulit dipadamkan, terutama di lahan gambut.

Mengapa OMC Digelar Sekarang?

Operasi yang berlangsung hingga 10 Agustus 2026 ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas di Istana Merdeka pada 28 Juli 2026. Rapat tersebut membahas antisipasi dampak musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino.

Suharyanto menegaskan bahwa OMC adalah salah satu upaya mendukung penanggulangan karhutla di enam provinsi prioritas. "OMC merupakan salah satu upaya mendukung penanggulangan karhutla di enam provinsi prioritas yang memiliki lahan gambut luas dan sulit dipadamkan jika terjadi kebakaran masif," kata dia, Rabu (5/8/2026) dikutip dari Antara.

Dua Kabupaten Jadi Sasaran Pertama

Direktorat Pengendalian Operasi BNPB memastikan pelaksanaan OMC berjalan terkoordinasi untuk memaksimalkan hasil di lapangan. Fokus awal penyemaian garam dilakukan di Ogan Komering Ilir dan Ogan Ilir, dua daerah dengan konsentrasi lahan gambut yang tinggi.

Selain faktor El Nino, permohonan dari Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan turut mendorong percepatan operasi ini. Gubernur Sumatera Selatan sebelumnya telah menetapkan status siaga darurat bencana asap akibat karhutla hingga 30 November 2026.

Peran Masyarakat dan Pelaku Usaha

Di luar upaya teknis dari udara, BNPB mengingatkan bahwa pencegahan karhutla tidak bisa hanya mengandalkan modifikasi cuaca. Suharyanto mengimbau pemerintah daerah, masyarakat, serta pelaku usaha di sektor kehutanan dan pertanian untuk meningkatkan sinergi dan pencegahan dini.

"Selanjutnya pemerintah daerah, masyarakat, serta pelaku usaha di sektor kehutanan dan pertanian diimbau meningkatkan sinergi dan pencegahan dini agar tidak melakukan pembakaran lahan," kata Suharyanto menambahkan.

Langkah ini menjadi krusial mengingat karhutla di Sumatera Selatan kerap memicu kabut asap lintas batas yang mengganggu kesehatan dan penerbangan. Pengawasan ketat di lapangan pun dinilai perlu diperkuat seiring berlanjutnya musim kemarau.

Reporter: Fauzan Akbar
Sumber: regional.kompas.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top