PALEMBANG — BPS Sumatera Selatan melaporkan total ekspor sepanjang enam bulan pertama 2026 mencapai 2.777,32 juta dolar AS. Angka ini menurun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat di atas 3,1 miliar dolar AS.
Kepala BPS Sumatera Selatan Moh Wahyu Yulianto menyebut penurunan kumulatif ini terjadi karena kontraksi pada sektor nonmigas. Komoditas utama seperti batubara dan lignit, karet serta barang dari karet, hingga lemak dan minyak hewan atau nabati menjadi penyumbang terbesar penurunan tersebut.
Jika dilihat per bulan, kinerja ekspor Juni 2026 menunjukkan sinyal perbaikan. Nilainya mencapai 569,62 juta dolar AS, naik 105,04 juta dolar AS dibanding Juni 2025 yang sebesar 464,58 juta dolar AS.
Lonjakan ini ditopang oleh kenaikan ekspor migas sebesar 40,15 persen. Ekspor nonmigas pada bulan yang sama juga ikut menguat dengan tambahan nilai 64,89 juta dolar AS atau tumbuh 14,94 persen.
Sepanjang semester I 2026, struktur ekspor Sumatera Selatan masih didominasi sektor nonmigas dengan kontribusi 89,68 persen. Sisanya berasal dari sektor migas yang tercatat sekitar 10 persen dari total nilai ekspor.
Dari sisi negara tujuan, China menjadi pembeli terbesar dengan nilai ekspor 1.022 juta dolar AS atau setara 36,80 persen dari total. India menyusul di posisi kedua dengan nilai 289,56 juta dolar AS (10,43 persen), disusul Malaysia sebesar 239,27 juta dolar AS (8,62 persen).
Secara kawasan, ekspor ke negara-negara ASEAN mencapai 780,75 juta dolar AS atau 28,11 persen dari total. Adapun pengiriman ke Uni Eropa tercatat 101,18 juta dolar AS atau hanya 3,64 persen.
“Hal ini menunjukkan bahwa ekspor komoditas Sumatera Selatan banyak dikirim ke negara-negara di benua Asia,” ujar Wahyu di Palembang, Selasa.
Kendati nilai ekspor turun, neraca perdagangan Sumatera Selatan periode Januari-Juni 2026 tetap mencatat surplus sebesar 2.136,37 juta dolar AS. Surplus tersebut berasal dari transaksi sektor nonmigas yang menyumbang 1.856,50 juta dolar AS dan sektor migas sebesar 279,86 juta dolar AS.
Surplus ini menjadi indikator bahwa arus barang keluar dari Sumatera Selatan masih jauh lebih besar dibanding barang masuk. Kondisi ini penting bagi stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi regional di tengah fluktuasi harga komoditas global.