SUMATERA SELATAN — Limbah Tambang yang Kini Bernilai Ekonomis
Selama ini, limbah padat dari pengolahan bijih nikel kerap dianggap sebagai residu yang tidak berguna dan hanya menumpuk di area tambang. Padahal, di dalam limbah tersebut masih terkandung unsur besi yang cukup melimpah. Dari sinilah tim peneliti Pusat Riset Metalurgi BRIN melihat peluang untuk menciptakan produk bernilai tambah tinggi.
Peneliti BRIN, Tri Arini, mengungkapkan bahwa ide riset ini berawal dari pengamatan sederhana terhadap potensi tersembunyi di balik limbah industri.
"Dari limbah tersebut kami melihat masih terdapat sumber besi yang dapat dimanfaatkan. Karena itu, kami melakukan riset untuk menghasilkan produk berbasis besi yang memiliki nilai tambah," ujar Tri dalam forum bertema "Hilirisasi Riset dan Inovasi Sektor Pertambangan".
Mengubah Cahaya Jadi Bahan Baku Baterai
Proses yang dikembangkan BRIN ini terbilang unik. Tim peneliti memanfaatkan energi cahaya untuk mentransformasi kandungan besi dalam limbah menjadi senyawa besi oksalat dihidrat. Metode ini dinilai lebih sederhana karena tidak membutuhkan tambahan bahan kimia lain, sehingga prosesnya lebih ramah lingkungan dibandingkan metode konvensional.
Hasil uji coba menunjukkan senyawa ini memiliki prospek cerah, terutama sebagai bahan baku utama pembuatan material lithium iron phosphate (LiFePO?/LFP). Material LFP sendiri merupakan komponen krusial dalam pembuatan baterai, khususnya untuk kendaraan listrik yang permintaannya terus meroket di pasar domestik maupun global.
Tidak hanya untuk baterai, produk olahan limbah nikel ini juga dapat dimanfaatkan di sektor lain seperti industri katalis, pigmen dan keramik, hingga pengolahan air dan lingkungan.
Target Komersialisasi dan Dampak Bagi Industri
Meski potensinya besar, teknologi ini saat ini masih berada di tahap uji laboratorium. Pengujian untuk aplikasi baterai sendiri telah berjalan selama sekitar satu tahun. Langkah berikutnya yang lebih menantang adalah meningkatkan kapasitas produksi agar bisa diadopsi oleh skala industri.
"Ke depan kami berharap teknologi ini dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih tinggi dan dapat diintegrasikan dengan industri," kata Tri.
Keberhasilan teknologi ini nantinya akan memberi dampak ganda bagi industri nasional. Pertama, perusahaan tambang bisa mengurangi volume limbah yang harus dikelola. Kedua, Indonesia memiliki sumber bahan baku mandiri untuk industri baterai, sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor besi oksalat yang selama ini masih didatangkan dari luar negeri.
Melalui program BRIN Goes to Industry, lembaga riset ini berupaya menjembatani hasil penelitian dengan kebutuhan dunia usaha. Harapannya, inovasi pengolahan limbah nikel ini bisa segera masuk tahap komersialisasi dan mendorong percepatan hilirisasi industri pertambangan nasional.