SUMATERA SELATAN — Impor bahan baku dan barang penolong—yang menjadi tulang punggung aktivitas manufaktur—tumbuh paling agresif. Sepanjang Juni 2026, kelompok ini naik 38,94% secara tahunan (year on year/yoy) dengan andil 26,94% terhadap total pertumbuhan impor nasional.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, memaparkan nilai impor migas pada Juni 2026 mencapai US$ 4,56 miliar. Angka ini meroket 105,15% dibandingkan Juni 2025.
Ateng menjelaskan kenaikan ini tidak hanya didorong oleh faktor volume, tetapi juga harga komoditas energi yang masih bertengger di level tinggi. "Untuk impor migas, kenaikan terjadi baik karena meningkatnya nilai maupun volume impor, di samping harga migas yang juga relatif tinggi," ujarnya.
Secara kumulatif Januari–Juni 2026, total impor Indonesia mencapai US$ 137,24 miliar, tumbuh 18,69% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari sisi penggunaan, kelompok bahan baku dan barang penolong mendominasi dengan nilai US$ 97,95 miliar, naik 18,38%.
BPS mencatat komoditas yang paling banyak mendorong kenaikan kelompok ini antara lain:
Seluruh kelompok barang impor tercatat mengalami penguatan. Impor barang konsumsi meningkat 17,46% secara tahunan, sementara impor barang modal—yang merefleksikan ekspansi kapasitas produksi—naik 26,53%.
Kenaikan ini mengindikasikan aktivitas industri yang sedang bergairah, baik untuk kebutuhan operasional harian maupun investasi mesin baru.
Selama semester pertama 2026, tiga negara pemasok migas terbesar ke Indonesia adalah:
Komoditas impor migas terbesar terdiri atas minyak mentah senilai US$ 16,16 miliar dan hasil minyak sebesar US$ 5,85 miliar.
Secara bulanan (month to month/mtm), volume impor Juni 2026 naik 11,50%, sedangkan nilainya meningkat 4,41%. Namun, Ateng menegaskan pihaknya belum menyimpulkan apakah kenaikan ini dipengaruhi oleh biaya angkutan, kurs, atau faktor lainnya.
"Hal itu memerlukan kajian lebih lanjut," katanya.
Lonjakan impor yang konsisten di tengah harga energi global yang tinggi ini akan menjadi sinyal penting bagi pelaku pasar untuk mencermati arah defisit neraca dagang dan stabilitas nilai tukar rupiah ke depan.