SUMATERA SELATAN — Keputusan ini diumumkan pada Senin pagi, menyusul mundurnya Finlandia dan hanya beberapa jam setelah FIFA membatalkan proposal kontroversial untuk menjual saham turnamen, yang dikenal dengan nama "FIFA Forward Enterprise" (FFE). FAW menjadi federasi pertama yang secara terbuka menyatakan penarikannya, dengan pernyataan tegas: "Gagal mengutamakan kepentingan terbaik sepak bola adalah kegagalan yang tidak bisa kami terima."
Kekacauan ini memicu kekhawatiran akan efek domino. Pekan lalu, lebih dari 200 federasi nasional dilaporkan telah menyatakan dukungannya kepada Infantino. Kini, pertanyaan besarnya adalah siapa yang akan menyusul Inggris, Wales, dan Finlandia. Norwegia dan Jepang disebut-sebut sebagai kandidat kuat berikutnya, dan jika Amerika Serikat ikut mundur, tekanan terhadap presiden FIFA akan semakin besar.
Kronologi keputusan ini berlangsung dramatis. Pada Sabtu dini hari pukul 00.30 waktu Inggris, sebuah pernyataan "atas nama presiden FIFA" muncul di situs resmi mereka, mengonfirmasi pembatalan rencana FFE. Langkah ini diambil hanya beberapa jam setelah FIFA mengeluarkan "klarifikasi" pada pukul 04.00 yang justru menegaskan rencana tersebut.
UEFA merespons dengan pernyataan pedas pada Sabtu pagi, menyebut skema tersebut sebagai "skema rahasia dengan tenggat waktu yang terburu-buru, yang dirancang oleh individu tanpa identitas jelas dan dengan manfaat yang meragukan bagi sepak bola." UEFA juga menegaskan bahwa kepemimpinan FIFA saat ini "tidak hanya kehilangan kepercayaan UEFA, tetapi juga banyak anggota keluarga sepak bola lainnya."
Kekhawatiran utama para federasi adalah proses pengambilan keputusan yang dianggap tidak transparan. Keputusan besar seperti FFE tampaknya dipertimbangkan secara sepihak oleh Infantino pada larut malam, sebuah pola yang memicu kritik luas. Meski ancaman boikot Piala Dunia kini mereda untuk sementara, "perang pernyataan" antara FIFA dan UEFA diperkirakan akan terus berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.
Di tengah hiruk-pikuk politik sepak bola global ini, ada catatan duka. Legenda AC Milan, Franco Baresi, wafat pada usia 64 tahun. Seorang penggemar, Nick Kinsella, mengenang dua momen yang menunjukkan karakter pria yang dijuluki "terbuat dari granit" itu. Pertama, saat pelatih Arrigo Sacchi ingin mengurangi intensitas latihan karena khawatir pemain kelelahan, Baresi justru meyakinkannya untuk meningkatkannya demi kebaikan tim. Kedua, saat Baresi mengenang final Piala Dunia 1994 yang ia jalani hanya 25 hari setelah operasi lutut. Alih-alih meratapi penalti yang gagal, ia justru mengingat mimpinya menyaksikan final 1970 di televisi. "Saya tidak pernah berpikir 24 tahun kemudian, di usia 34 tahun, saya akan bermain di final yang sama melawan Brasil. Itu mimpi yang menjadi kenyataan," kenangnya. Selamat jalan, Kapten.